Articles by "JURNALISM"
Showing posts with label JURNALISM. Show all posts

 


1.Siapkan naskah/artikel yang akan diposting – termasuk foto dan keterangan fotonya. 


   CATATAN: Artikel yang akan diposting hendaknya ditulis di Notepad atau aplikasi word lainnya secara offline. Selain menghemat pulsa, ini juga akan memudahkan dalam hal editing. Sehingga, ketika mempostingnya, naskah tersebut sudah benar-benar “bersih”. Tak ada lagi kesalahan teknis maupun subtansi/isi. Kita benar-benar tinggal memposting-nya. Bukan mengeditnya!


2.   Buka Google Chrome.


3.   Login ke blogger.com dan masukan akun Anda.


4.   Buka menu postingan dan klik entri/postingan baru.


5.   Copy-paste artikel di Notepad ke kolom tulisan di blogger.





6.   Lalu pasang atau masukkan gambar. Caranya:

a.   Tempatkan kursor di bagian yang mau di letakkan foto/gambar tadi.

b.   Geser bagian ini seperti yang ditunjukkan tanda panah pada gambar di bawah ini:



d.   Klik tanda yang ada dalam lingkaran merah seperti gambar di bawah ini:



e.   Maka akan keluar menu seperti gambar di bawah ini. Perhatikan kotak merah itu. Itu adalah berbagai folder tempat gambar yang akan kita tempatkan dalam artikel ini. 



f.     Klik salah satu icon folder dalam kotak merah untuk memilih gambar/foto. Di sini, sebagai contoh, kita akan menguplod gambar dari handphone kita.



g.   Jika sudah terupload, klik “Pilih” yang ada dalam kotak merah seperti dalam gambar di bawah:



h.   Save/simpan dengan meng-klik tulisan 'Save". Tentu saja setelah mengklik icon/tanda yang ditunjukkan gambar di bawah ini:



7.   Isi label, benahi url (sesuai keyword yang dibidik), dan pengaturan lainnya yang berada di bagian kanan kertas kerja Entri Baru.



8.   Lakukan preview dengan mengklik ikon mata seperti gambar di bawah ini. Ini untuk memeriksa kembali kalau-kalau ada yang kurang tepat dari artikel/postingan kita.


9.   Setelah yakin, silakan publikasikan dengan mengklik ikon pesawat kertas berwarna oranye: 

Sebagian besar foto berasal dari https://www.asikbelajar.com/.



mengetahui bahwa membuat berita itu mudah dan apa itu berita, pertanyaan kemudian adalah apakah setiap kabar itu layak untuk menjadi sebuah berita? Lalu, apa yang menjadi landasan untuk menilai bahwa sebuah kabar itu layak diberitakan dalam pengertian jurnalistik?
Para wartawan atau jurnalis yang telah berpengalaman, setidaknya sudah 5 tahun menggeluti profesi ini, tentu tidak akan bertanya-tanya secara detail. Dalam dirinya telah terbangun sebuah naluri tentang nilai berita yang baik menurut kriteria yang secara umum berlaku. Dia tidak perlu menyusun pertanyaan yang panjang untuk menetapkan bahwa sebuah kabar sangat layak menjadi berita yang bakal menarik perhatian masyarakat. Tetapi bagi wartawan pemula, ini akan menjadi hambatan utama yang bisa mamandegkan puluhan ide tentang sebuah laporan berita.
Untuk memudahkan memberikan gambaran tentang kelayakan berita, coba cermati peristiwa-peristiwa yang ditulis di bawah ini.
Contoh 1:
Tetangga kita, sebut saja namanya Kang Mas melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis, buat namanya, Nong Mas. Ijab Kabul pernikahan di kantor KUA Serang, pada hari Rabu, 20 Februari 2014. Umur Kang Mas sekitar 33 tahun dan Nong Mas berumur 25 tahun. Rencananya mereka akan melangsungkan resepsinya pada Minggu tanggal 24 Februari di sebuah gedung yang mewah di Kota Serang.
Contoh 2:
Seorang pria, sebut namanya, Priaman yang berumur 67 tahun menikahi seorang gadis, sebut namanya Gadismen yang berumur 19 tahun. Resepsi pernikahan itu berlangsung meriah di sebuah gedung mewah.
Contoh 3:
Pemerintah Kota Serang menyelenggarakan pernikahan masal terhadap 40 pasangan suami-istri yang selama ini telah hidup bersama. Ke-40 pasangan suami-istri itu sebenarnya sudah menikah di para ustad, tetapi tidak mencatatkan diri di Kantor Urusan Agama (KUA). Secara agama, mereka merupakan pasangan suami-istri yang sah, tetapi tidak memiliki keabsahan menurut urusan negara karena harus dibuktikan dengan akta pernikahan.
Dari ketiga contoh itu, manakah peristiwa yang bisa dibuat laporan untuk diberitakan? Jawabannya adalah ketiga contoh itu bisa diberitakan. Namun untuk menjawab pertanyaan apakah berita itu menarik, maka diperlukan sejumlah cara untuk mengetahuinya. Bisa saja, contoh 1 jauh lebih menarik untuk dijadikan berita dan dimuat di media yang dibuat untuk lingkungan setempat. Contoh 3 bisa sangat layak untuk diberitakan di media yang beredaran atau pembacanya lebih banyak di Kota Serang. Dan contoh 2 menjadi sangat menarik karena ada yang tidak biasa dalam peristiwa pernikahan. Ketidaklaziman itu adalah seorang lelaki berumur 67 tahun menikahi gadis berumur 19 tahun. Peristiwa itu akan menimbulkan banyak pertanyaan yang harus dijawab dalam berita, dan diperkirakan akan menjadi perhatian dari pembaca, tidak hanya pembaca di Kota Serang saja, boleh jadi pembaca di seluruh dunia.
Mari kita lanjutkan.
Ada sejumlah pertanyaan untuk menentukan apakah sebuah kabar itu layak dijadikan berita atau tidak. Pertanyaan itu adalah;
  • Apakah kabar itu baru?
  • Apakah kabar itu tidak biasa atau di luar kelaziman?
  • Apakah kabar itu penting atau menarik?
  • Apakah kabar itu menyangkut orang?
  • Seberapa kuat berita ini mempengaruhi pembaca?
Apakah kabar itu baru?
Suatu kabar yang baru menjadi faktor utama dalam menilai sebuah berita. Peristiwa tabrakan yang terjadi pada pagi hari menjadi penting dan menarik dibandingkan kisah pembunuhan John F Kenedy, Presiden AS yang terjadi puluhan tahun yang lalu.
Tetapi sesuatu yang baru itu bukan sekadar peristiwa yang baru terjadi, tetapi lebih pada apakah peristiwa itu pernah dilaporkan atau diberitakan atau belum pernah. Pembunuhan Mao Te Tung sempat ditahan oleh pemerintah Cina selama beberapa hari. Ketika pemerintah Cina merilis peristiwa itu melalui kantor berita milik pemerintaha, maka seluruh dunia menjadikan berita itu sangat penting dan dimuat di halaman pertama suratkabar-suratkabar.

Apakah kabar itu tidak biasa atau di luar kelaziman?
Mari kita cermati kehidupan sehari-hari. Bagi mereka yang hidup teratur tentu bukan hal yang luar biasa jika pada pagi hari bangun, pergi ke tempat kerja naik bus kota atau angkutan kota, kemudian berkerja selama waktu yang diperlukan dan pada akhirnya pulang ke rumah dengan menggunakan angkutan kota. Tidak ada yang luar biasa dari kejadian sehari-hari itu. Begitu juga dengan kehidupan lingkungan yang lainnya.
Tentu saja kita akan menjadi hal yang di luar kebiasaan ketika menemukan seorang pengemudi angkutan kota atau bus kota yang sudah berumur 100 tahun. Dia masih berkerja dengan tekun, terlihat sehat dengan pandangan mata yang masih awas. Kisah pengemudi berumur 100 tahun itu menjadi sangat menarik bagi pembaca.
Semboyan yang umum diterima para jurnalis hingga kini masih berlaku, yaitu anjing menggigit manusia itu hal yang biasa dan bukan berita. Tetapi manusia menggigit anjing itu merupakan hal yang luar biasa dan bisa menjadi berita. Tetapi semboyan ini pun tidak berlaku secara mutlak. Ada sekelompok masyarakat di Indonesia yang dagin anjing merupaka makanan yang lezat. Jadi manusia itu menggigit daging anjing ketika sudah menjadi makanan tentu bukanlah suatu berita yang hebat. Kesimpulannya adalah seuatu yang tidak biasa terjadi akan menjadi berita yang menarik bagi pembaca.
Apakah kabar itu penting atau menarik?
Jawaban dari pertanyaan ini sesungguhnya sangat subyektif. Tetapi ini yang melandasi pembaca untuk tertarik pada sebuah berita dan menelaahnya dengan baik. Faktor subyektivitas ini pula yang menyebabkan tiras sebuah media cetak naik secara besar-besaran atau sebaliknya merosot drastis dan nyaris membuat bangkrut perusahaannya. Karena itu para wartawan atau jurnalis dituntut untuk piawai menafsirkan soal penting atau menarik tersebut, kemudian dipadukan dengan soal penting secara umum.
Jika wartawan menulis soal serangga wereng, mungkin tulisan hanya sedikit dibaca. Karena orang-orang kota tidak begitu tertarik dengan serangga tersebut. Mereka merasa tidak terlibat dalam persoalan itu. Wereng itu hanya hidup di pedesaan yang masih memiliki areal sawah. Sedangkan orang kota tidak begitu paham tentang serangga wereng.
Tetapi kalau wartawan menulis tentang serangan hama wereng itu mengancam persediaan beras di perkotaan, tentu saja menjadi sangat penting dan menarik bagi pembaca yang berada di kota-kota. Sebab pembaca di kota itu masih membutuhkan beras sebagai bahan makanan sehari-hari. Pasokan beras ke kota dari pedesaan terancam tidak bidsa dilakukan karena tanaman padinya telah habis diserang hama wereng.
Demikian pula dengan berita tentang penggantian imam di masjid besar di sebuah kota. Berita itu tidak akan menjadi perhatian dan dianggap biasa. Tetapi jika pengumuman itu menyebutkan bahwa imam masjid di sebuah kota itu dipimpin oleh seorang wanita, maka akan menimbulkan reaksi luar biasa, terutama di kalangan umat Islam. Sebab keyakinan umat Islam menyebutkan, seorang imam tidak boleh perempuan, tetapi harus lelaki.
Apakah menyangkut orang?
Banyak tulisan yang baik dibuat oleh para ahli, tetapi tulisan itu hanya menjadi catatan atau sebuah referensi, bukan tulisan yang sangat diminati pembaca. Misalnya tulisan tentang hama wereng, angin topan atau puting beliung, pergerakan meteor dan sebagainya. Ya, karena tulisan itu hanya berisi tentang penjelasan soal-soal itu, tidak berkaitan dengan orang.
Ketika wartawan menulis tentang sebuah peristiwa angin topan atau puting beliung yang menghancurkan sebuah kampung, tulisan itu menjadi perhatian pembaca. Tentu saja muncul pertanyaan dalam pembaca, apapakah peristiwa itu begitu dekat dan akan mempengaruhi kehidupan pribadinya? Jika ada perkiraan angin puting beliung itu akan menimpa tempat tinggalnya, mereka segera melakukan tindakan untuk berjaga-jaga, misalnya untuk sementara pindah ke rumah saudara atau temannya yang berada di luar radius angin puting beliung itu bakal terjadi.
Seberapa kuat mempengaruhi pembaca?
Agak sulit untuk secara tegas menjawab bahwa sebuah berita akan mempengaruhi pembaca? Tetapi ada cara untuk meyakinkan soal itu, yaitu apakah peristiwa yang bakal diberitakan itu berlokasi sangat dekat dengan pembaca? Jika ya, maka dapat diyakini bahwa berita itu akan segera berpengaruh. Misalnya, peristiwa serangan demam berdarah yang semakin meluas di Kota Serang, tentu akan menempati halaman utama di suratkabar-suratkabar yang terbit di Kota Serang. Tetapi mungkin hanya menempati beberapa paragraf di suratkabar yang terbit di Sulawesi atau Bali.
Ini bisa terjadi karena pembaca akan selalu berpikir, apakah dampaknya berita tersebut terhadap kehdiupan pribadi atau keluarganya yang disayangi. Berita demam berdarah tentu akan menimbulkan tindakan penyelamatan diri atau keluarganya agar tidak terkena serangan demam berdarah.
Sumber: https://panduanjurnalistik.wordpress.com/2014/03/02/bagaimana-menilai-berita-yang-layak/

Dalam beberapa sesi pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi maupun organisasi kemahasiswaan atau pelajar di Banten, aku seringkali mendapatkan pertanyaan yang membuat aku tersenyum. Bagaimanakah wartawan mendapatkan berita? Seakan wartawan itu manusia “super” yang serba tahu dan selalu terdepan dalam mendapatkan informasi terkini.
Kenyataannya, wartawan itu bukan manusia super yang serba tahu. Banyak wartawan yang terkena marah oleh redaktur karena tidak memperoleh berita yang dimuat di luar media tempat si wartawan itu berkerja. Istilah wartawan adalah kebobolan atau kecolongan. Di sejumlah peristiwa, kebobolan itu menyebabkan si wartawan terkena surat peringatan (SP). Kalau sudah berkali-kali, boleh jadi dia akan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Karena itu, wartawan harus menjalani proses yang panjang untuk mengasah naluri dalam menilai situasi dan memperkirakan apa yang bakal terjadi ke depan. Kalkulasi perkiraan itu bukan hal yang mudah dilakukan. Aku punya seorang mentor yang jago dalam hal itu. Namanya, Her Suganda, Kepala Biro Kompas Jawa Barat di Bandung. Dia bisa memperkirakan akan terjadi banjir di sebelah utara Jawa Barat, terutama di daerah Karawang di sekitarnya setelah mengetahui ketinggian air Sungai Citarum.
Prestasi lainnya yang luar biasa dari mentorku ini adalah mengkalkulasi keadaan ekonomi secara umum dan dengan keyakinannya dia bisa membuktikan perkiraan bahwa rakyat Karawang yang merupakan daerah lumbung padi, saat itu dilanda kekurangan pangan. Bahkan, sebagian besar rakyat Karawang makan eceng gondok, tanaman gulma yang dianggap sebagai pengganggu yang menutup permukaan air. Dan, laporan berita mentorku ini menjadi heboh nasional dan bahkan internasional, apalagi saat itu sistem kekuasaan yang tersentralistik di Presiden Soeharto masih berlaku. Presiden ini tak mau mendengar ada warganya yang kelaparan, apalagi sampai makan eceng gondok. Itu merupakan contoh yang melukiskan begitu hebatnya naluri seorang wartawan yang terasah bertahun-tahun dan dipraktekan dalam tugas sehari-harinya.
“Aku mengibaratkan wartawan mencari berita itu seperti orang belajar sepeda. Di awal pelajaran, orang itu selalu mengingat urutan untuk bersepeda seperti menginjak kaki di pedal, duduk di sadel dan mengayuh pedal agar roda berputar. Setelah melaju, dia harus fokus pada pengendalian stang (kemudi) sepeda, meluruskan atau membelokan arah yang disukai. Ketika akan berhenti, dia pun harus mengingat rem tangan dan kaki mana yang turun lebih dulu agar tidak terjerembab atau terjatuh. Pada proses berikutnya ketika mulai lancar, dia sudah tidak lagi mengingat hal-hal tersebut. Secara otomatis nalurinya akan menggerakan tubuhnya untuk mengendalikan sepeda sesuai dengan kemauannya. Begitu juga wartawan pemula yang tergagap-gagap mencari berita, tapi pada proses selanjutnya dia tidak perlu lagi ditanya hendak kemana mencari berita. Nalurinya akan berkerja dengan sendirinya untuk mengendus adanya berita di suatu tempat. ”
Karena itu, aku sering menyarankan agar para wartawan pemula ditugaskan di pengadilan tingkat pertama atau pengadilan negeri untuk belajar mendengar dan menyimak masalah. Bagiku, pengadilan negeri itu tempat yang ideal wartawan pemula belajar. Di sana sudah tersedia narasumber yang terdiri dari hakim, jaksa, pengacara dan terdakwa. Wartawan hanya menyimak apa yang sedang terjadi dan memilah informasi yang layak untuk diberitakan. Menurutku, tak ada tempat sebaik pengadilan negeri untuk belajar kewartawanan.
Kembali ke topik semula, bagaimana wartawan mendapatkan berita?, maka aku menyusun beberapa point yang mungkin bisa memuaskan keingintahuan tentang hal itu. Bagi wartawan pemula, point ini juga bisa menjadi panduan agar tidak tergagap-gagap ketika memulai tugasnya sebagai wartawan pemula.
Pengadilan
Sudah diceritakan, ini merupakan tempat yang ideal bagi wartawan untuk belajar. Sebab seluruh masalah hukum akan bermuara di pengadilan, baik soal korupsi, perampokan, pelecehan hingga ke persoalan para pelacur. Bisa diyakini, setiap hari selalu ada persidangan semisal sidang kasus pidana, perdata dan lain-lainnya.
Ingat kasus watergate? Ya, kasus konspirasi politik yang menjatuhkan Presiden AS, Richard Nixon pada tahun 1970-an berawal dari sebuah sidang yang berlabel pencurian di kantor Komite Nasional Demokrat. Wartawan yang meliputnya merasa aneh, melihat hadirnya petinggi Gedung Putih di sidang yang terkesan remeh, yaitu pencurian. Investigasi yang dilakukan wartawan itu mengungkapkan, kasus itu bukan pencurian biasa, tetapi upaya untuk memasang alat penyadap yang dilakukan oleh pendukung Presiden Nixon. Hakim yang menyidangkan kasus itu, John Sirica ternyata jeli melihat apa yang terjadi dibelakang kasus tersebut. Hakim itu memerintahkan agar Presiden Nixon menyerahkan semua hasil penyadapan. Dari hasil penyadapan itu diketahui, hal itu merupakan praktik Partai Republik untuk menjatuhkan Partai Demokrat. Maka persoalan itu berkembang sedemikian tidak terkendali, sehingga Mahkamah Agung AS memutuskan menjatuhkan putusan yagn sama dengan Hakim John Sirica. Tak lama, senat membuat resolusi untuk impeachment atau tuntutan berhenti ke presiden, setelah diketahuinya ada korupsi yang besar di partai tersebut. Akhrinya Presiden Nixon mengundurkan diri pada tanggal 18 Agustus 1974.
Kamar Mayat
Boleh jadi wartawan akan bosan mengunjungi kamar mayat di sebuah rumah sakit. Setiap hari, dia akan melihat daftar mayat yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, sakit biasa, korban pembunuhan dan lain-lain. Tetapi jangan diremehkan hal ini. Kasus Ditje dan Arie Hanggara yang menghebohkan masyarakat Jakarta berawal dari kamar mayat RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Aku mengetahui persis kasus Arie Hanggara yang terjadi pada tahun 1984. Saat itu aku baru menajdi wartawan Harian Kompas di Kota Serang dan tengah menjalani pelatihan di redaksi Kompas di Jakarta. Eko Warjono, waktu itu ditugaskan untuk menangani masalah kriminal. Dia bercerita, kabar kematian Arie Hanggara diperoleh Josep yagn ditugaskan setiap hari menengok kamar mayat RSCM. Suatu hari, dia melaporkan ada seorang anak yang dibawa seorang lelaki pada subuh hari ke RSCM, tetapi sudah tidak bernyawa. Dari luka-luka dan lebam di tubuh anak itu, Josep meyakini, merupakan hasil penganiyaan. Maka pada hari itu, Eko ditugaskan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Keesokan harinya, berita soal kematian Arie Hanggara pun muncul di halaman satu dengan dugaan penganiayaan dilakukan oleh orangtua sendiri. Kecurigaan awal mengarahkan kepada ibunya yang berstatus ibu tiri. Redaksi Kompas akhirnya memutuskan membentuk tim kecil untuk menginvestigasi itu dan kebetulan aku diikutsertakan. Tim itu dipimpin oleh Eko Warjono. Kasus Arie Hanggara pun menyita perhatian Presiden RI, Soeharto yang tidak memberikan grasi alias pengampunan terhadap Tino dan Santi, kedua orangtuanya yang telah menganiaya Arie Hanggara hingga tewas. Keduanya dijatuhi huuman mati oleh pengadilan. Dan kasus Arie Hanggara ini dibuat film dengan aktir Dedy Mizwar yang memerankan Tino, ayah Arie hanggara dan Joice Erna yang memerankan Santi, ibu tiri Arie pada tahun 1985.
Sedangkan kasus Ditje Budimulyono, seorang pagawati terjadi pada tahun 1980. Aku belum menjadi wartawan Kompas. Tetapi kisahnya hampir sama. Ada mayat wanita cantik dibawa ke kamar mayat RSCM. Mayat cantik itu ditemukan di semak-semak kebun karet di Kalibata yang sekarang menjadi Kompleks DPR RI. Hasil visum et repertum sementara yang dilakukan dr Muis, dokter forensik RSCM waktu itu menegaskan, wanita yang dikenal bernama Ditje itu tewas akibat peluru tajam yang ditembakan berulang-ulang. Dan yang tidak pernah dipublikasi di media massa adalah peluru tajam itu merupakan peluru reguler alias terdaftar di kesatuan tertentu di Angkatan Darat (AD). Wartawan yang meliput krimnal sebenarnya sudah mengetahui dari kesatuan mana peluru itu, tetapi media tidak pernah berani menerbitkannya. Maklum, kekuasaan sentralistik dan pengendalian yang sangat ketat terhadap pers masih berlaku. Bisa berujung pembreidelan.
Dalam proses pengungkapkan kasus itu berjalan alot dan aneh. Tiba-tiba muncul tok Pak De alias Muhammad Sirodj yang berprofesi sebagai dukun. Pak De ini didakwa sebagai pembunuh Ditje dengan motif yang tidak pernah jelas. Pak De dihukum seumur hidup, meskipun berkali-kali membantah telah membunuh Ditje. Bahkan Pak De mengaku tidak pernah kenal dan tidak pernah bertemu dengan Ditje.
Di luar persidangan dan di luar semua skenario yang dibuat polisi, wartawan banyak memperoleh informasi yang sulit dipublikasikan. Bahwa Ditje menjalin hubungan tertentu dengan salah satu suami anak presiden. Sang istri yang merupakan anak presiden menangis dan mengadukan hal itu ke bapaknya (presiden). Pada malam pembunuhan itu, sekelompok orang berbadan tegap dan potongan rambut cepak mendatangi salon milik Ditje. Karena Ditje tidak ada, hanya mengacak-acak salon itu. Tetapi kelompok ini memburu Ditje dan ditemukan ketika sedang mengemudi sebuah mobil di Kalibata. Dengan kepiawaian menembak yang tak mungkin dilakukan seorang amatiran, Ditje pun tersungkur setelah peluru menembus kepala dan sejulah badannya.
Kantor Polisi
Kantor polisi dipastikan selalu ada pengaduan dari masyarakat, atau selalu ada peristiwa yang dilaporkan seperti kecelakaan lalu lintas, pembunuhan, pencurian berat, pencurian ringan atau hal-hal sepele yang lucu. Tantangan yang dihadapi wartawan pemula adalah keterbukaan polisi terhadap wartawan masih dinilai kurang. Apalagi, kalau kasus yang dilaporkannya menyangkut korpsnya atau kepolisian memiliki kepentingan tertentu, bisa diyakini informasi itu akan ditutup serapat-rapatnya.
Acara Pemerintahan
Acara resmi yang dilakukan pemerintahan terkadang membosankan baik yang selenggarakan eksekutif (pemerintah) maupun legislatif. Pidato-pidato mulai dari presiden, kepala-kepala daerah di provinsi maupun kabupaten/kota, persidangan di lembaga legislatif baik di DPR RI maupun DPRD cenderung menunjukan hal-hal yang prestasi dan menyenangkan mereka sendiri. Jarang mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Karena itu, wartawan dituntut tidak terpaku dengan isi pidato-pidato atau laporan mereka. Wartawan harus bisa mengembangkan isu-isu yang termaktub dalam pidato itu dengan menghubungi pihak-pihak lain yang tahu persis isu itu dikemukakan.

Acara Sosial
Acara sosial yang diselenggarakan lembaga pemerintah atau lembaga kemasyarakatan tertentu terkadang menimbulkan isu yang tidak bisa diduga. Acara sosialnya sendiri tidak menarik karena bersifat monoton dan biasanya memunculkan kesan kedermawanan yang luar biasa. Karena itu, wartawan harus cermat menangkap isu yang dikemukakan, bukan sekadar sifat kedermawanan, tetapi ditarik pada kesimpulan yang lebih universal. Misalnya, acara memberikan santunan orang miskin. Bisa saja, wartawan menarik isu pada yang lebih universial, berapakah sebenarnya jumlah orang miskin di Banten? Bagamanakah pemerintah menangani orang-orang miskin yang sebenarnya diamanatkan dalam UUD negara ini?
Sosial Media
Jaringan sosial media seperti facebook, twitter, instagram, path dan jaringan chating bisa dimanfaatkan sebagai sumber awal mendapatkan berita. Posting di sosial media itu dicermati dan dipilah mana yang bisa menjadikan berita, dan mana yang merupakan informasi sampah. Jangan sekali-kali, postingan di sosial media itu menjadi sumber utama karena sangat beresiko terhadap keakuratan dan keabsahan informasi itu, terutama terhadap akun-akun yang bersifat anonim atau tidak menggunakan nama aslinya.
Inisiatif Sendiri
Umumnya wartawan memiliki “kegelisahan” sendiri terhadap berbagai hal. Ini boleh jadi muncul karena wartawan selalu mempertanyakan atau skeptis terhadap informasi yang datang pada dirinya. Dia selalu dituntut untuk mendapatkan keabsahan yang baik dan keakuratan informasi agar tidak salah dalam mempublikasikan, atau agar kegelisahan dalam nuraninya bisa terjawab. Dalam prosesnya, muncul ide-ide atau gagasan tentang sebuah persoalan. Gagasan itu dicoba ditelusuri apakah benar atau tidak, yang kemudian melahirkan tulisan-tulisan yang bagus. Hanya perlu diwaspadai kelemahan atas inisiatif sendiri, yaitu wartawan tidak boleh bersikap telah mempunyai nilai terhadap sebuah subyek atau obyek. Jika itu terjadi, maka wartawan telah bersikap seperti hakim yang mencari pembenaran atas pemikirannya. Karena secara sadar atau tidak, wartawan akan mencoba menyingkirkan fakta-fakta tertentu yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Maka muncullah berita atau tulisan yang bersikap tidak seimbang dan cenderung menghakimi obyek pemberitaan itu.

Sumber: https://panduanjurnalistik.wordpress.com/2014/03/03/bagaimana-wartawan-dapat-berita/

Keingingan kuat untuk menjadi wartawan saja, tidak cukup untuk menjadikan seorang wartawan sukses. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan itu merupakan kekhususan dan keterampilan tertentu. Dan persyaratan terpenting justru bukan hanya tingkat pendidikan?
Tingkat Pendidikan
Tahun 1980-an, perusahaan media membuat persyaratan untuk tingkat pendidikan yang mau menjadi wartawan minimal SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau istilah sekarang Sekolah Menengah Atas (SMA). Periode itu lulusan SLTA dinilai memadai, karena sarjana muda dan sarjana (S1) sangat sulit didapatkan. Selain itu, lulusan SLTA periode itu memiliki kualitas yang unik (kalau tidak ingin mengatakan lebih baik dari lulusan SMA sekarang). Tetapi sejak tahun 1990-an, lulusan SMA tak mampu lagi mendukung persyaratan menjadi wartawan. Sebagian besar perusahaan media menetapkan syarat S1 untuk menjadi wartawan.
Apakah bisa menjamin lulusan S1 sukses menjadi wartawan yang dharapkan? Jawaban pasti, tidak menjamin. Sebab menjalankan profesi wartawan bukan berlandaskan ilmu yang diperoleh seseorang dari perguruan tinggi atau sekolah mana pun. Wartawan menjalankan ilmu terapan yang sederhana, tetapi jika semakin dipraktikan, dia akan manjadi seorang wartawan yang mumpuni. Bahkan ada seloroh, jika seorang wartawan tidak menulis dalam waktu 3 hari, dia akan jatuh sakit. Ya, menulis menjadi kecanduan yang luar biasa bagi wartawan yang tekun dan ulet.
Mengapa perusahaan media jarang sekali mengambil para lulusan perguruan tinggi dengan jurusan jurnalistik atau ilmu komunikasi? Ini jawabannya. Sebagian besar perusahaan media memang lebih menyukai menerima lulusan yang di luar jursan fakultas ilmu komunikasi, khususnya jurnalistik. Perusahaan akan mengambil lulusan jurusan lainnya seperti ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan sebagainya. Dengan ilmu-ilmu yang dipelajari calon dari perguruan tingginya, maka diharapkan akan mewarnai, menganalisis peristiwa-peristiwa yang diliputnya. Misalnya, calon wartawan yang sarjana ekonomi tentu akan lebih mudah memahami peningkatan harga bawang, terjadinya rush atau penarikan uang di sebuah bank atau tingkat suku bunga yang terus menerus naik tanpa terkendali, lebih mudah memahami gejala inflasi, deflasi atau kebijakan pemotongan nilai uang atau penyederhanaan mata uang. Calon wartawan yang bukan sarjana ekonomi tentu akan lebih sulit memahami dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami hal tersebut.
Peduli
Kepedulian terhadap manusia dan lingkungannya merupakan faktor yang penting bagi wartawan. Tanpa kepedulian itu, dia tidak akan mampu untuk mencermati berbagai bidang kehidupan, tidak akan mampu menemukan hal-hal yang unik dan menarik untuk disampaikan kepada pembaca, pendengar dan penonton. Coba bayangkan, seorang wartawan yang cuek jelas akan merugikan perusahaan media. Ketika mendengar ada tabrakan atau kejadian luar biasa seperti demam berdarah atau lainnya, dia tidak peduli dan asyik dengan urusan lain yang tidak punya hubungan dengan tugasnya sebagai kewartawanan. Yakinlah dia tidak akan mendapatkan berita itu.
Bahasa
Penguasaan bahasa merupakan persyaratan yang penting untuk menjadi seorang wartawan yang sukses. Bahasa itu mencakup bahasa tertulis atau lisan. Penguasaan bahasa memudahkan wartawan untuk memahami makna dan menggunakannya untuk menggambarkan peristiwa yang dilaporkan. Terkadang, penggunaan bahasa dan cara mengungkapkan fakta-fakta menjadi hal yang penting dan menyebabkan berita itu banyak dibaca, didengar dan ditonton audiens.
Bahkan, wartawan secara sadar atau tidak acapkali menjadi sumber untuk pengembangan bahasa. Karena wartawan menggunakan bahasa seefektif mungkin dan sering tak mengikuti tata bahasa yang baku. Akhrinya, wartawan menambah perbendaharaan dalam pengaturan standar penggunaan bahasa.
Tentu saja, ini membutuhkan rasa kecintaan wartawan terhadap bahasa. Wartawan akan selalu memeriksa ejaan, dan berusaha mengembalikan pada kosa kata yang benar. Keharusan wartawan dalam menuangkan tulisan atau lisan menuangkannya dalam format yang sederhana, jelas dan tidak menimbulkan berbagai penafsiran. Semakin lama, wartawan yang bersangkutan memiliki gaya sendiri yang khas dan bisa menjadi identitas si wartawan tersebut.

Menjaga Kepercayaan
Oranga percaya terhadap fakta-fakta yang dikemukakan wartawan. Karena itu, wartawan harus selalu berpikir kritis untuk tidak boleh mengkhianati kepercayaan yang diberikan pembaca. Caranya adalah sekuat tenaga wartawan memberitakan sesuatu dengan akurasi yang tinggi. Kecerobohan wartawan akan kesalahan fakta-fakta diyakini akan memerosotkan kepercayaan tersebut yang pada akhirnya berdampak pada kebangkrutan media akibat ditinggal pembaca.
Berpikir Kritis
Profesi sebagai wartawan akan menimbulkan banyak hal, terutama orang memberikan informasi untuk berbagai tujuan. Pemberian informasi itu bisa jadi bertujuan untuk kepentingan pemberi informasi atau kepentingan kelompoknya untuk “menghancurkan” lawan-lawan politik atau hal-hal yang tidak disukai. Karena itu, wartawan harus berpikir kritis, harus mampu mengenali hal tersebut, apakah informasi itu berisikan fakta-fakta yang benar atau menyesatkan. Karena itu, wartawan dituntut untuk mengembangkan kemampuan menggali informasi lebih lengkap, lebih dalam dan lebih berimbang agar bias dari pemberi informasi bisa terdistorsi sedemikian rupa, sehingga pembaca bisa mengenali fakta yang sebenarnya.
Agresif
Seorang wartawan dituntut untuk agresif, meskipun sikap ini terkadang menjengkelkan sumber yang sedang diwawancara. Keagresifan ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang berita yang sedang digali. Jangan biarkan berita itu lewat begitu saja. Padahal sumber berada di depan. Gali dan lengkapi berita itu, sehingga wartawan menjadi jelas atas sebuah persoalan, kemudian dibuat laporan untuk pembaca.
Sopan dan Ramah
Meski agresif, wartawan dituntut untuk tetap bersifat sopan dan ramah. Bahkan, keramahan dan sopan tetap harus ditunjukan kepada sumber yang tidak disukai.
Keandalan
Wartawan juga dituntut andal untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Ketika dia ditugaskan, maka dari editor hingga mesin percetakan menunggu hasil pekerjaannya. Keandalan itu harus dibuktikan dengan ketepatan waktu dan merampungkan tugas sesuai dengan yang ditetapkan.
Uang Bukan Segalanya
Sejak awal harus ditanamkan dalam benak para calon wartawan, bahwa uang bukan segalanya bagi profesi kewartawanan, meskipun uang sangat berpengaruh terhadap biaya operasi untuk mendapatkan berita dan kehidupan layak bagi si wartawan. Jika calon wartawan itu berniat mencari kekayaan yang melimpah ruah melalui profesi ini, sebaiknya niat menjadi wartawan itu diurungkan. Selayaknya, dia menjadi seorang pengusaha.
Bahwa menjadi wartawan harus memiliki kesadaran yang lebih tinggi dari profesi lainya karena di tangannya informasi dipercayakan untuk kepentingan publik. Keyakinan ada nilai-nilai yang harus diperjuangkan secara terus menerus dan tidak akan pernah berhenti selama ada manusia, ada negara, ada birokrat dan ada kehidupan di berbagai bidang. Untuk melukiskan itu, izinkan menggunakan kata-kata yang terkesan sangat hebat; ada nilai kebenaran dari fakta-fakta yang ingin diketahui masyarakat pada setiap peristiwa. Fakta-fakta itu bisa dipercaya masyarakat karena prosesnya dijalankan oleh wartawan-wartawan andal yang memiliki presisi tinggi dalam mejunjung integritas kewartawanan. 

Pertanyaan ini sering dilontarkan ketika menjadi narasumber di sebuah sesi pelatihan jurnalistik. Pesertanya ada yang sudah menjadi wartawan di sebuah harian lokal, ada mahasiswa yang sekadar ingin tahu apa itu wartawan. Jawaban mereka sering membuat kejutan. Simak di bawah ini;
Kecelakaan
Ada peserta yang menjawab bahwa menjadi wartawan bukan merupakan cita-citanya. Menjadi wartawan merupaka “kecelakaan”. Dia mengaku sedang tidak berkeinginan untuk berkerja dimana pun seusai kuliah di perguruan tinggi di Serang. “Tadinya saya mau ke Bali, memperdalam seni,” kata peserta tersebut. Ternyata, ada keluarganya yang memaskan lamaran ke sebuah perusahaan media lokal, maka dia dapat panggilan. Ya, sejak itu dia menjadi wartawan.
Ada lagi wartawan yang medianya berbasis umat Islam. Dia mengaku, tak ada dalam benaknya untuk menjadi wartawan. Dia berangkat dari Medan dengan tujuan ke Yogyakarta untuk menjadi penyair yang terkenal. Sebelum ke Yogyakarta, dia mampir di Serang untuk menemui kerabatnya. Eh, dia kecantol dengan seorang gadis, kemudian dinikahinya. Dan, dia pun jadi melamar menjadi wartawan lokal saat itu, kemudian pindah ke harian nasional yang berbasis umat Islam yang terbit di Jakarta. Hingga sekarang dia tetap menjalankan profesi sebagai wartawan, meskipun tidak lagi berkerja di media nasional itu.
Tempat transit
Ada lagi peserta yang sudah berpredikat sebagai wartawan. Dengan bersumpah dia mengatakan, pekerjaannya sebagai wartawan hanya bersifat sementara. Dia berkeinginan menjadi pegawai pemerintahan. “Dengan profesi wartawan, kan saya bisa melobi pejabat yang punya kewenangan untuk menerima pegawai. Kalau saya tidak bisa karena tidak memenuhi syarat, paling tidak istri saya bisa menjadi PNS,” katanya dengan berapi-api. Jika istrinya yang menjadi PNS, maka dia berjanji akan berhenti menjadi wartawan.
Sebelumnya, dia sudah berusaha mencari pekerjaan yang lain seperti melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS), melamar ke pabrik dan lain sebagainya. Tetapi usahanya tidak pernah menghasilkan. Ketika sebuah media nasional membuka lowongan pekerjaan untuk wartawan, maka dia ikut melamar. Maka jadilah ia wartawan.
Kutanyakan mengapa dia begitu keras hingga bersumpah bahwa profesi wartawan hanya bersifat sementara? Jawaban ini lah yang membuat kepala tertunduk.
Dia mengatakan, selama menjalankan profesi wartawan, dia mendapatkan kesan profesi itu bukan hal yang baik di sebagian mata masyarakat, termasuk keluarganya. Seolah profesi ini sama dengan preman atau “tukang peras” para pejabat atau orang-orang yang bermasalah. Jika dia membuat berita dan dimuat di medianya, terkadang dia disindir dengan kata-kata “wah sudah cair nih?”. Dia mengaku tidak tenang dengan hal-hal seperti itu.
Tentu saja, jawaban itu membuat kejutan. Apa yang sebenarnya terjadi pada profesi wartawan di Indonesia, terutama di Banten, sehingga menimbulkan pernyataan seperti itu. Apakah sejak awal tidak ditanamkan atau tidak dilakukan pendidikan dan latihan yang benar tentang wartawan.
Ingin Terkenal
Ada juga jawaban yang membuat hiburan, meski terkesan jawaban itu diada-adakan.Bahwa menjadi wartawan merupakan pilihan untuk lebih dikenal di kalangan perjabat, selebritis dan lingkungan lainnya. Atau paling tidak, dia punya status yang punya nilai di masyarakat. Alasan ini jug membuat miris. Sebab menjadi wartawan bukan untuk menjadi terkenal bak selebritis, tetapi dia punya tugas untuk melayani masyarakat di bidang informasi.
Dinamis
Jawaban bahwa profesi wartawan merupakan pekerjaan yang dinamis dan sangat besar tantangannya merupakan jawaban yang paling logis, meski jawaban itu hasil pemikiran agar mengatakan jawaban yang terkesan benar. Ya, setiap hari wartawan akan menghadapi orang yang berbeda, menyusun pertanyaan untuk mendapatkan berita yang berbeda dan menemukan hambatan-hambatan yang secara kualitas dan besaran juga berbeda.
Traveling atau perjalanan ke tempat-tempat yang baru dikunjungi atau suasana yang baru juga merupakan kesenangan tersendiri dari pekerjaan ini.
Berkubang Politik
Ada lagi wartawan yang sudah mulai “berkubang” dengan politik. Fenomena di Banten bukan hitungan sudah jari atas jumlah wartawan tersebut, tetapi sudah banyak wartawan. Ada wartawan yang menjadi pengurus partai, ada juga wartawan yang beberapakali menjadi calon anggota legislatif. Ada juga wartawan yang sudah pernah menjadi anggota legislatif lokal.
Pada tahun 2014 yang merupakan tahun diselenggarakannya Pemilu Legislatif dan disusul dengan Pemilu Presiden, maka wartawan yang bercampur dengan politik semakin kentara. Untul level yang lebih besar, yaitu di pusat negara ini, pemilik perusahaan media ikut menceburkan diri ke dunia politik. Ada Hary Tanoe Soedibyo, pemilik MNC Group dan Sindo Group yang mencalonkan diri jadi Wakil Presiden RI melalui Partai Hanura. Ada Surya Paloh, pemilik Metro TV Group menjadi Ketua Partai Nasdem. Dan, Abruzal Bakri yang memang berlatar belakang pengusaha, juga pemilik Group Viva dan TV One maju sebagai Calon Presiden dari Partai Golkar. Ada juga Dahlan Iskan dari Jawa Pos Group yang aktif di Partai Demokrat dan kini menjadi salah satu menteri di kabinet SBY.
Pertanyaan yang sering muncul adalah bukankah pers diyakini sebagai pilar keempat dalam tiga pilar yang disebut para pakar politik dunia? Pilar eksekutif, pilar legislatif dan pilar yudikatif. Sedangkan pilar keempat adalah pers yang merupakan perwujudan dari demokrasi sebagai penyeimbang yang selalu berpihak kebenaran, keadilan dan rakyat. Jika pers atau orang-orang pers yang memiliki pengaruh besar terhadap institusi pers yang dibangunnya menceburkan diri pada salah satu pilar itu, terutama pilar eksekutif dan legislatif, maka diyakini akan terjadi kekacauan luar biasa.
Kekacauan akan menimbulkan ambigu-ambiu dan dapat pula diyakini terjadinya konspirasi, bukan hanya konspirasi berbentuk korupsi keuangan negara, tetapi konspirasi dalam mengatur apa pun di negeri. Institusi pers yang dibangun tidak lagi berlandaskan kepentingan kebenaran, keadilan dan rakyat, tetapi lebih pada kepentingan-kepentingan egois sekelompok pemodal yang mengusai institusi pers.
Jika dicermati fenomena politik tahun 2014, maka lebih diyakini politisi menggunakan media massa untuk mempengaruhi pembaca, meskipun hal ini tidak diakui oleh wartawan dan pengelola perusahaan tersebut. Peran wartawan dan perusahaan media sebagai pelayan informasi yang mempengaruhi cara menafsirkan sebuah peristiwa yang disajikan menjadikan sangat strategis untuk mengontrol dan mengarahkan pembaca kepada persepsi yang diharapkan.
Ada perbedaan antara keinginan untuk mempengaruhi aktivitas wartawan dan institusi pers untuk kepentingan sendiri, dan keinginan untuk melakukannya untuk orang lain. Seharusnya, mereka tidak menggunakan kewartawanan untuk tujuan egois untuk meraih kekuasaan di eksekutif maupun legislatif, tapi dapat menggunakannya untuk meningkatkan kehidupan orang lain – mengingat bahwa pembaca mungkin tidak selalu setuju pilihan-pilihan yang dikemukakan.

Haus Pengetahuan
Ini jawaban yang agak menghibur. Bahwa jadi wartawan karena ingin memenuhi rasa ingin tahun atau meraup pengetahuan lebih banyak, tanpa harus masuk ke bidang studi tertentu. Artinya, wartawan akan memiliki begitu banyak pengetahuan di berbagai bidang tanpa harus menjadi mahasiswa pada banyak bidang. Meskipun, mereka sadar banyak para ahli menyebutkan, pengetahuan para wartawan dangkal karena memiliki pengetahuan serba sedikit tentang banyak bidang pengetahuan.
Meski begitu, pengetahuan yang serba sedikit pada banyak bidang memiliki banyak kegunaan. Ini hanya dapat membantu untuk membuat lebih lengkap dibandingkan orang lain. Hal ini juga dapat memberi “kekuasaan” yang tersembunyi atas orang-orang, terutama orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tertentu. Kekuasaan itu adalah penguasaan opini atas sebagian orang terhadap sebuah peristiwa atau fakta-fakta. Namun harus selalu diingat bahwa “kekuasaan” dapat digunakan dengan cara yang positif, untuk meningkatkan kehidupan masyarakat, atau dengan cara yang egois untuk memajukan diri sendiri.
Sumber: https://panduanjurnalistik.wordpress.com/2014/03/04/mengapa-jadi-wartawan/