Articles by "KULTURA"
Showing posts with label KULTURA. Show all posts
Ayam berada sejak 160 juta tahun yang lalu, perkembangan ayam merupakan evolusi dari reptilia, dengan jenis Archeopteryx yang merupakan reptil bersayap dan mampu terbang pada jarak pendek namun tubuhnya belum ditutupi bulu. Archeopteryx memiliki paruh yang bergerigi dan memiliki tulang ekor yang panjang. Ayam pada saat sekarang ini muncul pada 60 juta tahun lalu.

    Bukti bahwa ayam merupakan evolusi dari reptilia adalah sisik yang terdapat pada cakarnya, berkembang biak dengan cara bertelur, dan pada saat perkembangan embrionik berdarah dingin. Saat ini, perkembangan ayam jauh dari nenek moyangnya yang awal, seperti contoh : ayam hutan.

 2. Teori domestikasi

    Domestikasi atau penjinakan adalah sistem yang dilakukan manusia, agar ayam dapat memberi nilai guna dan dapat dikembang biakan untuk tujuan komersial. Ayam peliharaan saat ini mengalami tahap domestikasi yang panjang yang berawal dari ayam hutan. Proses domestikasi ini terdapat dua teori yaitu : Teori monophyletic dan teori polyphyletic.

a.  Teori monophyletic
     Teori monophyletic dikemukan Charles Darwin, menurutnya ayam yam yanang berkembang saat ini merupakan ayam yang berasala dari satu jenis ayam hutan yang masih ada pada saat ini, yaitu Gallus gallus yang terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara

b.  Teori polyphyletict.
     Teori ini mengemukakan bahwa ayam peliharaan saat ini berasal dari beberapa jenis ayam hutan yang masih berada di hutan di dunia ini. 

      Ayam hutan yang masih berada saat ini memiliki empat jenis, yaitu :
1.)  Gallus gallus atau Gallus bankica (ayam hutan merah), terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara.
2.)  Gallus sonnerati (ayam hutan kelabu), terdapat di hutan-hutan India Selatan.
3.)  Gallus laffaetti (ayam hutan selon), terdapat di hutan-hutan pulau Ceylon.
4.)  Gallus varius (ayam hutan hijau), terdapat di hutan-hutan pulau Jawa.

Teori onophyletic berdasarkan adanya bukti sebagai berikut
1.) Perkawinan ayam hutan merah (Gallus gallus) dengan ayam peliharaan menghasilkan ayam keturunan yang vertil. Sedangkan dengan Gallus varius menghasilkan keturunan invertil.
2.) Hasil tes darah menunjukkan, ayam peliharaan yang ada di berbagai wilayah di dunia mengandung darah ayam hutan merah (Gallus gallus).
3.) Pada jenis-jenis ayam peliharaan lokal sering dijumpai warna bulu yang mirip dengan warna bulu ayam hutan merah (Gallus gallus).
4.) Ayam peliharaan dewasa ini memiliki jengger yang bergerigi, sedangkan Gallus varius berjengger halus. 
5.) Ayam peliharaan memiliki sepasang pial di bagian samping rahang, sedangkan Gallus varius berpial tunggal bagian bawah kerongkongan.
Ayam berada sejak 160 juta tahun yang lalu, perkembangan ayam merupakan evolusi dari reptilia, dengan jenis Archeopteryx yang merupakan reptil bersayap dan mampu terbang pada jarak pendek namun tubuhnya belum ditutupi bulu. Archeopteryx memiliki paruh yang bergerigi dan memiliki tulang ekor yang panjang. Ayam pada saat sekarang ini muncul pada 60 juta tahun lalu.

    Bukti bahwa ayam merupakan evolusi dari reptilia adalah sisik yang terdapat pada cakarnya, berkembang biak dengan cara bertelur, dan pada saat perkembangan embrionik berdarah dingin. Saat ini, perkembangan ayam jauh dari nenek moyangnya yang awal, seperti contoh : ayam hutan.

 2. Teori domestikasi

    Domestikasi atau penjinakan adalah sistem yang dilakukan manusia, agar ayam dapat memberi nilai guna dan dapat dikembang biakan untuk tujuan komersial. Ayam peliharaan saat ini mengalami tahap domestikasi yang panjang yang berawal dari ayam hutan. Proses domestikasi ini terdapat dua teori yaitu : Teori monophyletic dan teori polyphyletic.

a.  Teori monophyletic
     Teori monophyletic dikemukan Charles Darwin, menurutnya ayam yam yanang berkembang saat ini merupakan ayam yang berasala dari satu jenis ayam hutan yang masih ada pada saat ini, yaitu Gallus gallus yang terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara

b.  Teori polyphyletict.
     Teori ini mengemukakan bahwa ayam peliharaan saat ini berasal dari beberapa jenis ayam hutan yang masih berada di hutan di dunia ini. 

      Ayam hutan yang masih berada saat ini memiliki empat jenis, yaitu :
1.)  Gallus gallus atau Gallus bankica (ayam hutan merah), terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara.
2.)  Gallus sonnerati (ayam hutan kelabu), terdapat di hutan-hutan India Selatan.
3.)  Gallus laffaetti (ayam hutan selon), terdapat di hutan-hutan pulau Ceylon.
4.)  Gallus varius (ayam hutan hijau), terdapat di hutan-hutan pulau Jawa.

Teori onophyletic berdasarkan adanya bukti sebagai berikut
1.) Perkawinan ayam hutan merah (Gallus gallus) dengan ayam peliharaan menghasilkan ayam keturunan yang vertil. Sedangkan dengan Gallus varius menghasilkan keturunan invertil.
2.) Hasil tes darah menunjukkan, ayam peliharaan yang ada di berbagai wilayah di dunia mengandung darah ayam hutan merah (Gallus gallus).
3.) Pada jenis-jenis ayam peliharaan lokal sering dijumpai warna bulu yang mirip dengan warna bulu ayam hutan merah (Gallus gallus).
4.) Ayam peliharaan dewasa ini memiliki jengger yang bergerigi, sedangkan Gallus varius berjengger halus. 
5.) Ayam peliharaan memiliki sepasang pial di bagian samping rahang, sedangkan Gallus varius berpial tunggal bagian bawah kerongkongan.
Ayam berada sejak 160 juta tahun yang lalu, perkembangan ayam merupakan evolusi dari reptilia, dengan jenis Archeopteryx yang merupakan reptil bersayap dan mampu terbang pada jarak pendek namun tubuhnya belum ditutupi bulu. Archeopteryx memiliki paruh yang bergerigi dan memiliki tulang ekor yang panjang. Ayam pada saat sekarang ini muncul pada 60 juta tahun lalu.

    Bukti bahwa ayam merupakan evolusi dari reptilia adalah sisik yang terdapat pada cakarnya, berkembang biak dengan cara bertelur, dan pada saat perkembangan embrionik berdarah dingin. Saat ini, perkembangan ayam jauh dari nenek moyangnya yang awal, seperti contoh : ayam hutan.

 2. Teori domestikasi

    Domestikasi atau penjinakan adalah sistem yang dilakukan manusia, agar ayam dapat memberi nilai guna dan dapat dikembang biakan untuk tujuan komersial. Ayam peliharaan saat ini mengalami tahap domestikasi yang panjang yang berawal dari ayam hutan. Proses domestikasi ini terdapat dua teori yaitu : Teori monophyletic dan teori polyphyletic.

a.  Teori monophyletic
     Teori monophyletic dikemukan Charles Darwin, menurutnya ayam yam yanang berkembang saat ini merupakan ayam yang berasala dari satu jenis ayam hutan yang masih ada pada saat ini, yaitu Gallus gallus yang terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara

b.  Teori polyphyletict.
     Teori ini mengemukakan bahwa ayam peliharaan saat ini berasal dari beberapa jenis ayam hutan yang masih berada di hutan di dunia ini. 

      Ayam hutan yang masih berada saat ini memiliki empat jenis, yaitu :
1.)  Gallus gallus atau Gallus bankica (ayam hutan merah), terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara.
2.)  Gallus sonnerati (ayam hutan kelabu), terdapat di hutan-hutan India Selatan.
3.)  Gallus laffaetti (ayam hutan selon), terdapat di hutan-hutan pulau Ceylon.
4.)  Gallus varius (ayam hutan hijau), terdapat di hutan-hutan pulau Jawa.

Teori onophyletic berdasarkan adanya bukti sebagai berikut
1.) Perkawinan ayam hutan merah (Gallus gallus) dengan ayam peliharaan menghasilkan ayam keturunan yang vertil. Sedangkan dengan Gallus varius menghasilkan keturunan invertil.
2.) Hasil tes darah menunjukkan, ayam peliharaan yang ada di berbagai wilayah di dunia mengandung darah ayam hutan merah (Gallus gallus).
3.) Pada jenis-jenis ayam peliharaan lokal sering dijumpai warna bulu yang mirip dengan warna bulu ayam hutan merah (Gallus gallus).
4.) Ayam peliharaan dewasa ini memiliki jengger yang bergerigi, sedangkan Gallus varius berjengger halus. 
5.) Ayam peliharaan memiliki sepasang pial di bagian samping rahang, sedangkan Gallus varius berpial tunggal bagian bawah kerongkongan.
Ayam berada sejak 160 juta tahun yang lalu, perkembangan ayam merupakan evolusi dari reptilia, dengan jenis Archeopteryx yang merupakan reptil bersayap dan mampu terbang pada jarak pendek namun tubuhnya belum ditutupi bulu. Archeopteryx memiliki paruh yang bergerigi dan memiliki tulang ekor yang panjang. Ayam pada saat sekarang ini muncul pada 60 juta tahun lalu.

    Bukti bahwa ayam merupakan evolusi dari reptilia adalah sisik yang terdapat pada cakarnya, berkembang biak dengan cara bertelur, dan pada saat perkembangan embrionik berdarah dingin. Saat ini, perkembangan ayam jauh dari nenek moyangnya yang awal, seperti contoh : ayam hutan.

 2. Teori domestikasi

    Domestikasi atau penjinakan adalah sistem yang dilakukan manusia, agar ayam dapat memberi nilai guna dan dapat dikembang biakan untuk tujuan komersial. Ayam peliharaan saat ini mengalami tahap domestikasi yang panjang yang berawal dari ayam hutan. Proses domestikasi ini terdapat dua teori yaitu : Teori monophyletic dan teori polyphyletic.

a.  Teori monophyletic
     Teori monophyletic dikemukan Charles Darwin, menurutnya ayam yam yanang berkembang saat ini merupakan ayam yang berasala dari satu jenis ayam hutan yang masih ada pada saat ini, yaitu Gallus gallus yang terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara

b.  Teori polyphyletict.
     Teori ini mengemukakan bahwa ayam peliharaan saat ini berasal dari beberapa jenis ayam hutan yang masih berada di hutan di dunia ini. 

      Ayam hutan yang masih berada saat ini memiliki empat jenis, yaitu :
1.)  Gallus gallus atau Gallus bankica (ayam hutan merah), terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara.
2.)  Gallus sonnerati (ayam hutan kelabu), terdapat di hutan-hutan India Selatan.
3.)  Gallus laffaetti (ayam hutan selon), terdapat di hutan-hutan pulau Ceylon.
4.)  Gallus varius (ayam hutan hijau), terdapat di hutan-hutan pulau Jawa.

Teori onophyletic berdasarkan adanya bukti sebagai berikut
1.) Perkawinan ayam hutan merah (Gallus gallus) dengan ayam peliharaan menghasilkan ayam keturunan yang vertil. Sedangkan dengan Gallus varius menghasilkan keturunan invertil.
2.) Hasil tes darah menunjukkan, ayam peliharaan yang ada di berbagai wilayah di dunia mengandung darah ayam hutan merah (Gallus gallus).
3.) Pada jenis-jenis ayam peliharaan lokal sering dijumpai warna bulu yang mirip dengan warna bulu ayam hutan merah (Gallus gallus).
4.) Ayam peliharaan dewasa ini memiliki jengger yang bergerigi, sedangkan Gallus varius berjengger halus. 
5.) Ayam peliharaan memiliki sepasang pial di bagian samping rahang, sedangkan Gallus varius berpial tunggal bagian bawah kerongkongan.
Si Urat Emas dan Mutiara. [facebook-nazarudinazhar]
Oleh Nazarudin Azhar, desainer grafis dan sastrawan yang banyak menulis dalam Bahasa Sunda.

Akhir tahun 2018 ini, dilengkapi oléh satu kebahagiaan: terbitnya dua buku berbahasa Sunda yang diprakarsai oléh dua anak muda. Kedua buku tersebut yang menemani saya menghabiskan sisa hari di tahun ini. Keduanya saya nikmati betul sebagai buku yang menggetarkan, memulihkan kembali semangat membaca buku berbahasa Sunda, di tengah lesatan kemajuan dunia digital; di mana semua orang bisa menuliskan apapun dan mempublikasikannya semudah buang angin. 

Buku yang saya maksud adalah "Mutiara", novel John Steinbeck yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Sunda oléh Atép Kurnia, diterbitkan oléh Penerbit Layung, cetakan I, Novémber 2018.

Buku kedua adalah kumpulan carita pondok Godi Suwarna, "Carios si Urat Emas", diterbitkan oléh penerbit Silantang, cetakan I, Désémber 2018.

Kedua buku tersebut patut mendapat sambutan hangat, minimal karena beberapa hal. 

Pertama, tentu saja setiap penerbitan buku berbahasa Sunda harus diapresiasi sebagai wujud perjuangan dalam menjaga dan memelihara keberadaan Bahasa Sunda. Ini adalah sebuah langkah kongkrét di tengah semangat "ngamumulé" Bahasa Sunda, sebagaimana kerap dilontarkan oléh berbagai pihak yang selalu khawatir Bahasa Sunda akan punah, lalu getol melaksanakan beragam seminar, diskusi, atau kongrés. 

Kedua, buku ini diterbitkan oléh penerbit yang didirikan oléh anak-anak muda. Penerbit Layung milik Zhulfy "Miko". Pemuda dari Tarogong Kidul, Garut. Sebelum menerbitkan "Mutiara", Layung telah menerbitkan antara lain novel "Déng" karya Godi Suwarna, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonésia oléh Déri Hudaya, dan penerbitan ulang sebuah buku terjemahan karya Oktavio Vaz. 

Terbitnya "Mutiara" telah memantapkan langkah Miko untuk menekuni penerbitan buku-buku sastra Sunda, dan buku tentang kesundaan, baik yang berbahasa Sunda maupun Indonésia. Keseriusannya sebagai penerbit antara lain dengan menggandéng Atép Kurnia sebagai redaktur penerbit Layung. Atép dikenal sebagai anak muda yang inténs meneliti berbagai hal terkait sastra dan pustaka Sunda. Ia juga penulis, penerjemah, dan éditor yang handal. 

Kemudian penerbit Silantang, didirikan oléh Lugiena Dé, berbasis di Cibiru, Bandung. Déa, panggilan Lugiena, adalah sastrawan muda yang juga bekerja sebagai guru. Karyanya antara lain buku kumpulan carpon "Jeruk" (asasupi, 2016). 

Kumpulan carpon "Carios si Urat Emas" adalah buku perdana yang diterbitkan oléh Silantang. Buku yang benar-benar menampakkan Silantang sebagai penerbit buku Sunda yang daria. Déa dengan dukungan Dadan Sutisna --sastrawan dan dokuméntator paling tekun hingga sejauh ini, dan menulis catatan yang sangat bagus di buku Carios si Urat Emas -- berupaya mencari bahan untuk buku ini tanpa melibatkan sang pengarang. Ia mengumpulkan carpon Godi Suwarna dari sejumlah média, memilahnya untuk diterbitkan sebagai buku, dan mengurus izin dari pengarang setelah terwujud manuskrip. Bagi pengarang, pastilah hal semacam ini adalah kejutan yang menyenangkan. 

Meski penerbit baru, Layung dan Silantang, hadir dengan profésional. Semua aspék yang tekait dengan usaha penerbitan, dilaksanakan dengan baik. Mendirikan perusahaan secara légal formal yang tentunya berimplikasi pada kewajiban bayar pajak, mengeluarkan modal untuk desain dan percetakan, dan membayar royalti pada pengarang. Hal ini saya ceritakan untuk menegaskan pembéda antara kedua penerbit ini dengan penerbit "indie" yang hanya berfungsi sebagai penerbit saja sedang hal lain ditanggung si pengarang. 

Menerbitkan buku berbahasa Sunda sudah pasti menjadi pilihan yang berani. Orang Sunda berpuluh juta banyaknya, tapi entah berapa persén yang senang membeli buku. Meréka tentu sudah memperhitungkan bagaimana cara memasarkan buku-buku yang meréka terbitkan. Saya berdoa agar usaha meréka mendapat kelancaran, apalagi menerbitkan buku Sunda adalah juga sebentuk jihad, karenanya semoga meréka mendapat berlipat ganjaran, baik berupa matéri maupun kebahagiaan.

Hal lain yang menyenangkan adalah buku-bukunya énak dibaca. Pemakaian font, layout, juga kertas yang digunakan sangat nyaman di mata. Ini juga penting karena kenyamanan saat membaca sebuah buku harus benar-benar diperhitungkan, terutama bagi pembaca yang rakus, yang kerap harus menyelesaikan sebuah bacaan menarik seperti orang yang tengah melampiaskan kerinduan. 

Hal terakhir, dan ini sangat mengharukan secara personal, adalah saat saya membaca kedua buku ini ditemani bercangkir kopi dan berbatang kréték yang saya beli dari honor membuat kaver kedua buku ini (setelah sebelumnya saya juga membeli beberapa buku lain sebagai rasa syukur). Kerén kan? Tentu saja! Saya merasa tengah dirahmati oleh berkah yang melimpah. 

Terakhir, dan ini yang terpenting, kedua buku ini harus dimiliki dan dibaca. Untuk membelinya Anda bisa langsung menghubungi penerbit Layung (0813 2267 9851), dan penerbit Silantang (0815 7186 576). John Steinbeck dan Godi Suwarna, telah berbagi kisah yang mengguncang perasaan, dan penerbit Layung dan Silantang telah memudahkan Anda untuk membacanya. Silahkan!

Sebelum saya tutup tulisan pendek ini, ada baiknya saya sisipkan juga komentar dan "pengalaman" editor "Carios Si Urat Emas" sekaligus bos Silantang, Lugiena De. 

"Mendirikan Silantang dan menerbitkan Si Urat Emas bagi saya adalah proyek main-main yang akhirnya tidak main-main. Proses yang sebetulnya gampang, tetapi menjadi menguras tenaga, karena -selain ngamimitian, mengawali - semua ini dikerjakan di tengah hajaran tugas-tugas administrasi guru yang maha tidak menarik, serta pekerjaan mengedit buku Geger Sunten orderan Mang Haji Taufik Faturohman," kata Dea. "Tanpa bantuan beberapa pihak, terutama Mang Dadan Sutisna, buku ini tidak mungkin terbit 2018. Tanpa bantuan Kang Nunu pula, kaver buku ini mungkin hanya sekedar ide yang tidur lelap di dalam kepala," kata Dea lagi, seraya berterimakasih kepada saya.

Bahkan, kata Dea, sampai detik ini Silantang belum diurus NPWP-nya. "Kewajiban membayar pajak kepada negara belum saya tunaikan. Untuk itu saya memohon maaf kepada Pak Jokowi dan Ibu Sri Mulyani. Semoga mereka berdua mengerti," kata Dea.

Ia pun tak lupa memberi penghormatan dan berterimakasih kepada Godi Suwarna. "Buku ini tentu saya persembahkan kepada Mang Prebu Godi Suwarna, seseorang yang banyak menghutangkan budi kepada saya di alam lain. Kegembiraan saya mungkin lebih besar dari kegembiraan belio sendiri. Karena bagi belio mah buku ini téh anaknya yang kesekian. Tapi bagi saya, Si Urat Emas itu anak cikal," ujar Dea.

"Insya Allah, proyek penerbitan selanjutnya sedang menunggu. Akan saya kerjakan bersama gelandang sayap kiri Persib, Lord Atep Kurnia. Pidu'ana we," tandas Lugina, berseloroh sambil meminta do'a dari kita semua.

*) Artikel ini pertama kali tayang di wall status penulisnya. Ditayangkan ulang di sini atas izin yang bersangkutan.

Lenovo ThinkPad X1 Carbon G6. [lenovo]

Ketika memilih laptop yang tepat, semuanya bermuara pada budget dan rencana menggunakannya. Untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Sementara, di luar sana banyak sekali pilihan. Dan itulah masalahnya: Kita kerap bingung mana yang harus kita pilih? 

Untunglah ada media seperti techspot, yang secara profesional memberi penjelasan teknis terhadap berbagai produk industri IT. Dan setiap akhir tahun mereka memilihkan kita mana produk terbaik. Termasuk laptop. 

Untuk laptop, pilihan mereka pun tak hanya satu. Mereka memiliki sedikitnya enam kategori laptop terbaik: Terbaik secara keseluruhan, laptop konvertibel terbaik, terbaik untuk laptop dengan layar 15 inch, terbaik dari segi harga dan kualitas, terbaik untuk gaming, dan terbaik untuk kategori Macbook. 

Selain melakukan penilaian di antara tim techspot sendiri, pemilihan “The Best” ini juga menjadikan para pengguna sebagai juri. Hasil kedua tim penilai itu kemudian dikompilasikan, berupa skore dua digit angka. 

Dan tahun ini, untuk kategori Terbaik Secara Keseluruhan, pilihan jatuh kepada dua laptop: Dell XPS 13 dan Lenovo ThinkPad X1 Carbon. “Banyaknya produk laptop ultraportabel berkualitas tinggi sata ini, mulai dari Dell hingga Asus, Microsoft, Lenovo, Apple, HP, dan banyak lagi, yang semuanya memiliki opsi laptop premium yang fantastis, membuat pemilihan kategori ini paling sulit,” kata Shawn Knight, senior editor, mewakili rekan-rekanya. “Dan sejujurnya, untuk sebagian besar kita tak akan salah pilih dengan banyak model unggulan ini,” tambah Shawn. 

Secara umum, kedua laptop ini memiliki kualitas developer yang solid, layar besar, masa pakai baterai yang lumayan panjang, dan desain industry yang lebih dari sekadar memadai. Di pasaran, harga XPS 13 mulai dari US$ 1.050 untuk model basis i5-8250U, 8GB, 256GB PCIe SSD. Sedangkan ThinkPad X1 Carbon, untuk pengaturan dasar yang sama, berharga lebih mahal. Sekitar $ 1,360. 

Lenovo ThinkPad X1 Carbon adalah pilihan laptop bisnis top-end, yang menawarkan layar IPS 14 inch, konektivitas hebat termasuk dual Thunderbolt 3 port, keyboard yang juga hebat dan penyimpanan NVMe yang cepat. Tidak ada pilihan untuk GPU diskrit, tetapi jika Anda beruntung Anda dapat menangkap salah satu dari banyak penawaran yang ditawarkan Lenovo sepanjang tahun. 

ThinkPad X1 dapat dikonfigurasi dengan sejumlah opsi tampilan termasuk layar sentuh atau Dolby HDR. Webcam-nya kompatibel dengan Windows Hello meskipun ia juga menawarkan sensor sidik jari. Untuk melengkapi fitur bisnisnya, ThinkPad menawarkan akses docking dan dapat dilengkapi dengan konektivitas global LTE-A. Semuanya pada paket 2,49 lb. “Opsi yang tidak buruk,” kata Shawn. 

Sementara, XPS 13 pun ultraportable yang sama mengesankan. Juga siap untuk bisnis, walau ia dibangun terutama dan utama sebagai laptop komputasi. Revisi terbaru dari XPS ini lebih ramping dibandingkan abannya. Sistem pendinginnyaa pun mendapatkan sentuhan baru, sebagaimana keyboard dan touchpad yang kemampuannya ditingkatkan. Ini membuat CPU Core 8-gen yang sama mampu melakukan penyimpanan NVMe lebih cepat. Selain itu, model ini juga menawarkan opsi layar 4K (1080p IPS standard). 

Dell XPS 13. [laptopmag]

Demi meraih kerampingannya, XPS kehilangan dukungan untuk port USB berukuran biasa. Toh, ini menawarkan banyak konektivitas. Meskipun, USB-C dan DisplayPort/Thunderbolt 3 disertakan, juga slot microSD - dan webcam nostril menjadikannya sesuatu banget.
Pawai Budaya puncak Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, 9 Desember 2018. [ferilatief]
Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 diselenggarakan di tengah intoleransi dan konservatisme yang semakin meningkat, yang di beberapa tempat mulai mengancam keberadaan tradisi dan budaya asli yang dianggap tak sesuai dengan ketentuan agama tertentu.

Kebudayaan yang inklusif menjadi kunci menghadapinya, kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, yang menyelenggarakan KKI 2018 ini.

"Sifatnya saling belajar, saling mengenal, saling tahu sudut pandang orang yang berbeda, berusaha memahami, empati, sehingga kemudian toleransi akan muncul dari pemahaman, bukan karena doktrin," ungkapnya, di sela-sela Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, yang berlangsung mulai Rabu hingga Ahad, 5-9 Desember 2018.

Hilmar mengaku, memahami jalan pikiran pihak-pihak yang yang menganut konservatisme. Menurutnya, keterbatasan pengalaman dan lingkungan di mana mereka bergaul menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai mereka.

"Saya juga tidak setuju kalau misalnya 'harus toleran', 'harus Bhinneka Tunggal Ika', dan sebagainya, tapi enggak kasih jalan, gimana sih caranya harus menjadi Bhinneka Tunggal Ika?" lanjutnya. 

Ia menegaskan, strategi mengelu-elukan multikulturalisme dan retorika saling menghargai tidak cukup untuk menembus 'tembok-tembok' yang dibangun oleh sebagian pihak untuk mengkotak-kotakkan kelompok masyarakat.

"Yang kita perlu lakukan sebelumnya di pemerintahan itu (adalah) memperkuat daya cerna kebudayaan orang, sehingga dia bisa menerima apapun yang dia lihat tanpa buru-buru kemudian mengambil sikap menolak," ujarnya.

Itulah, katanya, semangat kongres kebudayaan 2018 ini. 

Tidak seperti kongres-kongres sebelumnya yang didominasi diskusi budaya dan presentasi makalah, tahun ini, kongres juga menampilkan beragam jenis budaya nusantara, dan rencananya akan menelurkan produk konkrit berupa Strategi Kebudayaan.

Dokumen ini merupakan rangkuman aspirasi dan harapan pelaku kebudayaan dari lebih dari 300 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Terdapat tujuh isu strategis dalam Strategi Kebudayaan tersebut, salah satunya yaitu praktik pemikiran kebudayaan yang menghadapi tantangan, baik akibat globalisasi, maupun pembenturan kebudayaan dengan agama.

"Nantinya, Strategi Kebudayaan ini akan disusun menjadi Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan (RIPK), yang akan menjadi acuan pemerintah dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di masa yang akan datang," demikian kata Hilmar sebagaimana dikutip BBC News Indonesia.
Log Zhelebour. [oyik via pinterest]
Log Zhelebour, satu nama besar di balik kejayaan rock Indonesia dan turut mengawal industri musik rock sejak 1980-an, punya rencana untuk "pensiun total" dari industri musik. Selama ini, dia memang sudah mengurangi banyak aktivitas bepergian keluar kota sebagai promotor konser, tur, atau festival musik.

"Rencana pensiun sudah lama," kata Log kepada saya dalam obrolan suatu malam di Jakarta, belum lama ini, usai menjadi narasumber acara sebuah stasiun televisi.

Alasannya mungkin beragam. Namun salah satu yang diungkapkan Log malam itu, dia hendak fokus bersama keluarga, terutama anak bungsunya yang masih kecil serta sang isteri. Semasa masih aktif mengurus festival musik, Log bisa sembilan bulan pergi dan tinggal berpindah dari kota ke kota.

Log bernama asli Ong Oen Log, kelahiran Surabaya, 16 Maret 1959. Zhelebour adalah penamaan versi keren atas julukan "slebor" sejak masih remaja. Dalam perjalanan kariernya, Log Zhelebour bukan lagi hanya merujuk ke nama orang, tetapi juga merek bisnis promotor atau pagelaran musik rock legendaris dalam sejarah musik Indonesia. 

"Orang pertama yang berani pakai nama pribadi sebagai brand, itu saya. Tanya Hermawan Kertajaya (pakar pemasaran)," ujar Log. 

Berawal dari Disko

Setelah lulus SMA pada akhir 1970-an, Log mulai menekuni bisnis pagelaran musik. Awalnya adalah disko. Dia menjadi disc jockey (DJ) sekaligus membuat banyak lomba disko di Surabaya. Musik rock masih kurang digemari khalayak luas, tetapi sudah ada grup besar seperti SAS dari Surabaya dan Superkid dari Bandung.

Tantangan datang dari pihak Nirwana Record. Log diminta membuat pagelaran musik rock untuk SAS, yang album terbaru mereka baru saja dirilis, Nirwana. Dia juga bertemu Denny Sakrie yang saat itu sedang menangani Superkid. 

"Bikinlah duel itu, SAS vs Superkid di Stadion Tambaksari tahun 1980-an. Itu pertama kali saya bikin Rock Power," kenang Log. 

Pertunjukan musik itu bermasalah dan mengecewakan penonton. Tetapi Log tidak kapok. Rock Power berlanjut terus hingga beberapa tahun kemudian, bahkan berkembang menjadi tur beberapa kota. Grup musik yang diundang dan tampil dalam konsep "versus" ini di antaranya God Bless, Rollies, dan Jaguar.

Empat tahun mengadakan konser rock, Log membuat pagelaran yang lebih besar: Festival. Dia berhasil mendapatkan sponsor dari perusahaan rokok untuk menggelar Djarum Super Rock Festival (DSRF) perdana pada 1984. 

Musisi penampil lebih beragam. Tidak hanya grup rock yang populer, tetapi juga bakat baru dari berbagai daerah. Log mengundang mereka untuk ikut berkompetisi dengan membawakan lagu wajib ciptaan sendiri. Visinya adalah regenerasi dan promosi musik rock dalam negeri ke khalayak dalam negeri.

"Dari Medan, Jakarta, Surabaya, Malang, sampai luar pulau seperti Bali, saya undang untuk ikut festival," tutur Log menyebut sejumlah kota. "Tapi sifatnya lomba, bukan sekadar main bareng."

"Saya ingin musik rock Indonesia benar-benar meng-Indonesia supaya orang beralih, dari menikmati lagu rock Barat, hingga mulai mencintai rock Indonesia – karena waktu itu industri rock Indonesia enggak laku, enggak dilihat orang," imbuhnya. 

Tahun berikutnya, DSRF membuka diri lebih luas. Supaya bisa ikut bersaing, grup musik tidak harus diundang, tetapi bisa mendaftar. "Siapapun boleh daftar, – yang merasa sudah mapan dan bagus, boleh daftar." 

Sepanjang empat dekade karier Log hingga sekrang, era industri musik rock dalam negeri yang dia rasa paling melejit adalah dekade ketiga atau tahun 2000-an setelah reformasi. Benak anak muda saat itu adalah pemberontakan dan anti kemapanan. 

"Album produksi saya meledak semua, mulai dari Boomerang, Jamrud," kata Log. "Kami bikin tur terus. Rekaman di luar negeri. Bikin video klip banyak. Promo digenjot. Bahkan saya bikin tabloid rock. Supaya pertunjukan bagus, saya investasi beli sound system bagus, lighting bagus. Saya beli sendiri, enggak sewa." 

Menyusun Standar Baru

Konsistensi dan ketangguhan Log sebagai promotor musik tampak sejak awal. Sukses acara membuat sponsor senang dan meminta acara dipertahankan. Karena kepercayaan meningkat, dana produksi yang digelontorkan semakin besar demi mendongkrak omset bisnis.

Kesempatan modal ini digunakan Log untuk meningkatkan standar fasilitas panggung pertunjukan. "Era itu masih miskin fasilitas. Akhirnya duit saya habis untuk membuat dan membeli fasilitas." 

Menurut Log, panggung musik saat itu masih memakai tenda beralas papan kayu dan terbuka tanpa atap. Barikade saat tur masih memakai drum minyak berisi air. Serba seadanya karena bahkan belum ada jasa rental perlengkapan panggung musik yang diharapkan.

"Saya bikin sendiri, tetapi dipinjamkan (dana) oleh Djarum. Salah satu direktur Djarum Surabaya kasih saya hutang duit, nanti dipotong jadi biaya sponsor setiap kota. Untuk sponsor, dikurangi Rp 500 ribu buat menyicil. Waktu itu, diberi hutang Rp 5 juta untuk pengadaan panggung multiplek dari besi. Lalu bikin barikade," tutur Log. 

Persewaan panggung memadai baru muncul sekitar 1989, beberapa tahun setelah promotor musik lain bermunculan. Log juga menyebut bahwa kualitas tata panggungnya, termasuk suara dan lampu, menjadi ukuran standar baru yang lantas diikuti sejumlah promotor berikutnya. 

Salah satu inovasi dari Log belakangan ini adalah konsep dua panggung saling menyebelah dengan sistem suara yang saling terhubung. Suara dari penampil di panggung kanan misalnya, akan terdengar oleh penonton di panggung kiri, yang melihat performa musisi lewat layar. Dengan pengaturan ini, penonton tak perlu berpindah kanan-kiri jika pertunjukan berganti sesi. 

"Saya beli sound banyak karena membayangkan dua panggung main bareng. Sound berbunyi semua," ujar Log.

Pengaturan ini diterapkan dalam sebuah konser 11 tahun silam. Log juga mengklaim bahwa festival metal besar di Jerman bernama Wacken Open Air telah mencontek konsep tata suara dua pangggung berjajarnya itu.

Selain aspek teknis, Log juga merapikan aturan kerja sama dengan grup musik dan sponsor. Kala itu, kasus tipu menipu terhadap musisi oleh "panitia" konser lain kerap terjadi. Sebaliknya, pada tahun-tahun pertama, konser yang digelar Log juga lebih sering merugi. Bukan karena pendapatan kecil, tetapi pengeluaran ekstra yang membengkak akibat ulah para artisnya.

"Dulu anak band juga kurang ajar," cerita Log. "Diundang, bikin miskin panitia. Zaman dulu kalau pertunjukan, enggak ada aturan, (artis tamu) minum bir dan whisky sesukanya. Mulai dengan saya, saya atur ada uang makan dan lainnya. Kalau mau mabuk atau laundry, duitmu sendiri, enggak ada urusan. Saya jatah Rp100 ribu. Enggak ada urusan selain itu."

"Sejak itu, saya bisa untung," imbuh Log.

Log Zhelebour dan Jamrud, salah satu grup rock yang diorbitkannya. [kapanlagi-musikkeras]

Konser Rock Menguntungkan

Bicara soal untung rugi, ada pernyataan menarik dari Ravel Junardy, penyelenggara festival musik metal Hammersonic, sebagaimana tersaji dalam artikel wawancaranya Tirto, Juli 2018. Menurut Ravel, festival musik idealis dengan skala besar dan rutin seperti yang mereka adakan tidak membawa keuntungan finansial. Festival Hamersonic juga disebut memakan dana sampai US$ 2 juta atau Rp 29 miliar! 

Bagi Log, pengakuan soal angka ini terlalu mengada-ada. 

"Itu dibesar-besarkan. (Artis) yang diundang metal-metal enggak laku. Itu artis kelas bawah yang diundang," kata dia, santai. "Hammersonic, paling gede, artis kelas begitu, mungkin ya Rp 3-5 miliar saja."

Log menyebut, mengadakan konser atau festival di Jakarta itu lebih mudah dan murah dibanding daerah lain. Biaya pertunjukan di luar Jakarta, apalagi luar pulau, bisa dua kali lipat lebih besar karena ongkos tranportasi dan kru membengkak. Dengan catatan, kualitas produksi panggung sama seperti di Jakarta.

Menurut Log, konser atau festival dengan sokongan sponsor seharusnya tidak merugi. Apalagi jika acara tersebut memiliki citra kuat sebagai nilai jual utama. Misalnya, festival terbesar para penggemar musik tertentu. "Saya pasti dapat sponsor gede dan enggak perlu jual tiket mahal."

Dia juga menyoroti konser musik sekarang yang lebih banyak membawa misi sponsor ketimbang misi artisnya. Misi artis misalnya, promosi album terbaru agar penjualan meledak. Sebagai produser musik, Log pernah mengadakan tur konser antara lain untuk God Bless, Jamrud, dan Boomerang.

"(Sekarang) artis jadi 'kacung'-nya sponsor karena mereka (penyelenggara) bukan promotor. Mereka EO (event organizer). Mereka bekerja berdasarkan pesanan sponsor," ujar Log. "Kalau saya promotor, saya punya konsep, saya tawarkan ke sponsor. Kamu berani enggak? Enggak mau, saya cari lain." 

Rencana Tur Konser Perpisahan

Festival musik terakhir yang diselenggarakan Log adalah Gudang Garam Rock Competition 2007 atau 11 tahun silam. Pagelaran musik lain adalah konser bertajuk Log 2 Rock - Skid Row vs Jamrud lima tahun silam, yang digelar tanpa sponsor di tujuh kota, serta konser Jamrud bertajuk Saatnya Menang.

Setelah perheletan besar itu, Log memilih untuk istirahat dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Dan ia berniat pensiun dari aktivitasnya sebagai promotor musik. Ia ingin memusatkan perhatiannya kepada keluarga.

Pihak sponsor sempat menawari Log untuk melanjutkan GGRC, tetapi Log tak rela meninggalkan keluarga berbulan-bulan. "Kalau bikin festival seperti itu, waktu yang terbuang hampir sembilan bulan. Praktis saya enggak pernah menemani anak saya," ujar Log. 

"Saya enggak mau, enggak dulu. Kalau sekali-sekali masih mau. Kalau festival, itu ada audisi, tiap provinsi, tiap minggu. Enggak pulang-pulang saya karena pindah-pindah terus. Sponsor berani bayar. Waktu itu saya satu paket dikasih Rp 25 miliar, tapi waduh... enggak pulang."

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, terutama musik rock. Sebelum itu, dalam rangka pamitan, dia ingin membuat konser musik perpisahan di beberapa kota. Konsep utama konser ini adalah sorotan penting atas perjalanan musik Indonesia selama masa karier Log. 

"Menceritakan lagu yang pernah saya orbitkan, saya produksi, dan menjadi karya legenda serta tolok ukur di industri musik. Konsepnya mungkin dengan orkestra dan cerita. Lebih tentang perjalanan rock Indonesia," ungkap Log.

"Tahun depan. Menurutku, bisa lima kota - kalau bisa. Ya lihat-lihat nanti," pungkasnya. (asa-medcom)
Kabasaran, tarian perang dari Minahasa, Sulawesi Utara, dalam pembukaan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018,  5 Desember 2018. [BBC]
Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus aktif meluhuri dan melestarikan budaya bangsa Indonesia. Apalagi mengingat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin cepat serta semakin tingginya penetrasi budaya lain yang masuk ke Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Presiden dalam sambutannya saat menghadiri acara Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Ahad, 9 Desember 2018.

"Kita harus selalu ingat untuk terus aktif meluhuri kebudayaan Indonesia, kebudayaan nusantara dan sekaligus menguatkan dan mengembangkannya dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut," kata Kepala Negara.

Presiden meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki kekhasan sendiri dibanding bangsa-bangsa lain. Menurutnya, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta peradaban bangsa Indonesia lahir dari pengalaman panjang menghadapi perkembangan zaman dan upaya dalam memecahkan persoalan-persoalan yang ada.

"Oleh karena itu, mengakar kuat kepada peradaban Indonesia adalah utama. Namun, menjaga budaya untuk terus tumbuh di tengah interaksi belantara budaya-budaya dunia adalah tantangannya," lanjutnya.

Fenomena perkembangan teknologi transportasi dan informasi yang semakin canggih dan cepat, lanjut Presiden, membuat lalu lintas dan interaksi budaya semakin padat dan kompleks. Baik itu berupa interaksi antarkelompok dan antarbangsa, interaksi antarkearifan termasuk interaksi antara yang lama dengan yang baru.

"Tetapi yang paling penting menurut saya, budaya kesadaran masyarakat bawah untuk meraih kesejahteraan untuk meraih kemajuan jangan sampai sirna. Dan dalam lalu lintas pemikiran dan gagasan yang semakin kompleks ini memang potensi gesekan juga semakin tinggi. Namun harus diingat peluang untuk toleransi dan kolaborasi sinergi juga selalu terbuka lebar," tuturnya.

Untuk menghadapi kompleksitas lalu lintas budaya tersebut, Presiden pun mengimbau semua masyarakat untuk teguh menjaga peradaban Indonesia sekaligus keterbukaan juga untuk berinteraksi. Selain itu, juga membangun kesungguhan bersama untuk bertoleransi dan untuk berbagi.

"Kita harus menjaga agar interaksi tersebut tidak didominasi oleh semangat untuk berkontestasi semata, tetapi juga interaksi tersebut harus dilandasi jiwa toleransi dan semangat untuk berbagi. Dan orientasi kebudayaan harus tidak keluar dari etos sehari-hari kita, etos keseharian kita," imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Presiden pun memberikan ucapan terima kasihnya kepada para pegiat budaya yang telah menjaga agar kebudayaan Indonesia tetap mengakar kuat dan sekaligus tumbuh subur mewarnai belantara budaya dunia.

"Berkat semangat dan kerja keras bapak, ibu semuanya yang luar biasa. Sekali lagi saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya," ungkapnya.

Presiden Joko Widodo juga menuturkan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah panggung interaksi yang bertoleransi. Misalnya, _smart city_ yang menyediakan ruang publik yang inklusif sebagai panggung toleransi, atau bisa juga berupa ruang ekspresi dan kebebasan mimbar akademik dan berupa lembaga-lembaga keagamaan dan lembaga-lembaga pendidikan.

Dirinya menyadari untuk mewujudkan hal tersebut negara harus hadir sebagai fasilitator yang mendukung ekspresi toleransi. Peran negara tersebut antara lain dengan memberikan dukungan sumber daya, perlunya reformasi birokrasi kebudayaan yang fleksibel dan sesuai dengan tuntutan zaman, dan memfasilitasi keterlibatan masyarakat melalui dewan kebudayaan dan dewan kesenian, dan sebagainya.

"Tetapi seberapa pun besarnya peran pemerintah sebagai fasilitator terhadap peluang ekspresi yang bertoleransi, tidak akan mungkin tanpa adanya ruang-ruang ekspresi dan ruang-ruang toleransi ada di masyarakat dan yang ada di para pemimpin bangsa ini baik yang di daerah provinsi maupun di pusat," ujarnya.

Menurutnya, ruang yang dibutuhkan bukan hanya ruang di luar diri, tetapi juga ruang yang ada di dalam tubuh dan pikiran-pikiran setiap individu. Karena ekspresi yang diwarnai toleransi dan toleransi yang diekspresikan juga membutuhkan ruang dalam hati dan pikiran.

"Membutuhkan ruang dalam niat di semua tindakan kita untuk membuka diri, untuk berbagi, dan untuk mengembangkan diri. Dan dengan cara ini insyaallah kita bisa mempercepat langkah hijrah kita menuju ke sebuah Indonesia yang maju," tandasnya.

Di penghujung sambutannya, Presiden membacakan sajak Diponegoro karya Chairil Anwar.

Sebelum memberikan sambutan, Presiden menyerahkan penghargaan kepada empat budayawan, yakni Tim Restorasi Candi Borobudur Ismojono, Hubertus Sadirin, Putu Wijaya, dan Zawawi Imron. (ksp)
Lukas Luwarso [slpi]

Lukas Luwarso, mantan Ketua AJI dan berbagai organisasi pers internasional.

Kebudayaan dipahami sebagai segala hasil olah kegiatan dan akal budi manusia sebagai makhluk sosial. Produk kebudayaan mencakup perilaku sosial, norma, ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan sebagainya. Minggu ini, 5-9 Desember 2018, Kebudayaan Indonesia berkongres.
Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) kali ini dianggap “sangat historis,” untuk merayakan 100 tahun kongres pertama—yang diselenggarakan pada 1918. KKI 2018 bermaksud menghimpun berbagai temuan dan rekomendasi acara pra-kongres di tingkat kabupaten, kota dan provinsi di seluruh Indonesia. Hasil akhir KKI adalah tersusunnya satu strategi kebudayaan. 
Mahasiswa yang pernah mengikuti kuliah Ilmu Budaya Dasar, pasti ingat rumusan C A Van Peursen tentang strategi kebudayaan: yaitu upaya manusia belajar dan merancang kebudayaannya; bagaimana manusia secara kolektif mampu menjawab pertanyaan dan persoalan menyangkut tujuan dan makna hidupnya. Apa tujuan dan makna yang hendak digapai KKI? Apa strategi kebudayaan yang hendak dirumuskan?
KKI sepertinya tidak menyinggung apa makna ke-Indonesiaan dalam lanskap persoalan global yang kini dihadapi dunia: apa rumusan peran yang dapat dimainkan atau disumbangkan oleh Indonesia, sebagai bangsa, dalam menawarkan solusi atas sejumlah persoalan global. Misalnya, soal ancaman perubahan iklim, menguatnya fundamentalisme agama, atau perkembangan teknologi informasi dan  kecerdasan buatan yang justru mengalienasi manusia.
Apa yang dianggap sebagai “Kongres Kebudayaan” pertama, pada 1918, bertajuk Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling (Kongres Pengembangan Kebudayaan Jawa). Kongres ini fokus membidik keterbelakangan masyarakat akibat kolonialisme. Para intelektual saat itu mengagas  semangat  kebangsaan (nasionalisme), saat itu “bangsa Jawa”. 

Nasionalisme sebagai ideologi atau konsep kini semakin tergerus oleh globalisasi. Juga ketertinggalan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi. Isu-isu ini sepertinya tidak menjadi agenda penting KKI 2019. Apakah semangat zaman yang hendak diperbincangkan dan diperdebatkan dalam  “Kongres Kebudayaan” 2018 tidak terlalu jelas.Semangatnya adalah untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat. Hasil kongres adalah berdirinya lembaga Java Institut. Lembaga inilah yang kemudian menjadi motor dan inspirator gerakan pembaruan kebudayaan-kebangsaan pada kongres-kongres berikutnya. Para pemikir saat itu mampu menangkap zeitgeist (semangat zaman) era saat itu.
Label “Kongres Kebudayaan” sepertinya diterjemahkan secara harfiah dalam KKI 2018, sebagai forum beragam gagasan dan kegiatan kesenian. Kongres menjadi sebuah festival, ketimbang mencoba merumuskan konsep persoalan zaman dan mencari solusinya. Jika kongres pertama, 1918, merumuskan upaya memajukan kebudayaan dan menumbuhkan kesadaran berbangsa, apa rumusan persoalan kongres 2018? 
Dari situs KKI 2018 tertulis: sebagai upaya “pemajuan kebudayaan dengan meningkatkan ketahanan dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia,” tidak terlalu jelas elaborasinya. Dari brosur jadwal acara KKI 2018 terbaca lebih dari 100 rangkaian acara  selama lima hari kongres: dari  pidato, lokakarya sampai pawai budaya; dari bazar kuliner, debat publik, hingga musik konser. 
KKI 2018 lebih mirip bazar kebudayaan, sebagai etalase atau ekspose produk-produk kebudayaan, ketimbang sebuah kongres. Kongres lazimnya lebih menekankan pada perbenturan pemikiran dan gagasan, sebagai satu simposium, merumuskan kesamaan persepsi dalam menjawab tantangan zaman.
Boleh jadi kerancuan dimulai dari label “Kongres Kebudayaan”. Lazimnya yang berkongres adalah manusia, bukan produknya. Kebudayaan tidak berkongres. Ada kongres Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi tidak lazim kongres Keislaman; ada kongres Partai Golkar, tetapi tidak lazim ada kongres kegolongan atau kekaryaan; ada kongres PWI, tapi tidak lazim kongres kewartawanan. 
Lain soal jika KKI 2018 memang dimaksudkan sebagai bazar atau festival kebudayaan. Bazar adalah perhelatan beragam acara dan kegiatan yang boleh tidak koheren: peserta boleh siapa saja, dan pengunjung bisa memilih acara apa yang disuka. 
Sebaiknya KKI berganti label menjadi “Kongres Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan”, forum tahunan bagi pegawai Kemendikbud untuk berkumpul, mengail gagasan, dan ekspose hasil program. Atau ganti istilah KKI menjadi BKI: Bazar Kebudayaan Indonesia.

*) Artikel ini pernah ditayangkan di watyutink. Dimuat ulang atas izin penulisnya.
Warga Desa Ujung Pandaran hendak melarung sesajen di laut pada kegiatan Simah Laut beberapa tahun lalu. [borneonews]
Acara Simah Laut di Pantai Ujung Pandaran, Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada 1 Desember 2018 tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal. Namun prosesi melarung sesajen ke laut ditiadakan. 

"Hasil rapat Camat Teluk Sampit dengan tokoh masyarakat Desa Ujung Pandaran, Simah Laut tetap dilaksanakan, hanya saja prosesi melarung sesajen ditiadakan," ujar Camat Pulau Hanaut Juliansyah, Kamis, 29 November 2018. 
Prosesi melarung sesajen ditiadakan karena dinilai menyalahi ajaran agama Islam. Atas dasar ini warga di sana menolaknya.
"Jadi kegiatan Simah Laut nantinya akan dilakukan dengan doa bersama masyarakat dan juga makan bersama. Sedangkan prosesi lainnya akan dihilangkan," ungkap Juliansyah. 
Kamis pagi, 29 November 2018, warga Desa Ujung Pandaran menolak adanya prosesi melarung sesajen ke laut pada kegiatan Simah Laut. Karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Warga meminta acara seperti dulu lagi, yakni tasyakuran kampung dan makan bersama masyarakat di desa tersebut. 
Penolakan warga tersebut atas dasar pesan Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu, saat mengisi ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW, beberapa waktu lalu. Di mana Habib  berpesan agar proses melarung sesajen ke sungai atau ke laut dihilangkan. 
Hal itu disampaikan, karena Habib Akhmad tidak ingin musibah yang terjadi di Palu, juga terjadi di Ujung Pandaran. Karena, saat datangnya gempa dan tsunami, di Pantai Talise Palu sedang ada ritual melarung sesajen ke laut.(borneonews)
Salah satu penyelenggaraan acara Simah Laut di Pantai Ujung Pandaran, Kalimantan Tengah. [borneonews]
Warga di Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menolak acara Simah Laut yang jadi agenda rutin pemkab setempat. Alasannya, mereka tak ingin musibah seperti yang terjadi di Palu berulang di wilayahnya.
Warga menganggap agenda melarung sesajen akan berdampak seperti halnya di Palu yang baru-baru ini terkena musibah Tsunami dan gempa bumi.
"Acara itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Warga meminta acara seperti dulu, hanya tasyakuran kampung dan makan bersama," kata M Khairudin, warga setempat,  Kamis, 29 November 2018.
Menurut remaja mesjid tersebut, warga menolak juga atas dasar pesan Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu saat mengisi acara maulid di Masjid Quba Desa Ujung Pandaran.
"Beliau berpesan, yang kebetulan hadir Kepala Desa Ujung Pandaran dan Camat Teluk Sampit, agar acara Simah Laut atau melarung sesajen ke laut dibatalkan. Beliau tidak ingin musibah yang terjadi di Palu terulang lagi di Pantai Ujung Pandaran," kata Khairudin.
Selanjutnya dia berkata, seperti diketahui, pada saat Tsunami di Pantai Talise Palu sedang ada ritual melarung sesajen ke laut. Karena itu mereka sepakat untuk menolak kegiatan rutin setiap akhir tahun itu.
"Saya berani menyatakan menolak karena ini Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu langsung menyatakan, kami tidak ingin kejadian di Palu terulang di sini," pungkas Khairudin. (borneonews)