Articles by "Film"
Showing posts with label Film. Show all posts
Ayam berada sejak 160 juta tahun yang lalu, perkembangan ayam merupakan evolusi dari reptilia, dengan jenis Archeopteryx yang merupakan reptil bersayap dan mampu terbang pada jarak pendek namun tubuhnya belum ditutupi bulu. Archeopteryx memiliki paruh yang bergerigi dan memiliki tulang ekor yang panjang. Ayam pada saat sekarang ini muncul pada 60 juta tahun lalu.

    Bukti bahwa ayam merupakan evolusi dari reptilia adalah sisik yang terdapat pada cakarnya, berkembang biak dengan cara bertelur, dan pada saat perkembangan embrionik berdarah dingin. Saat ini, perkembangan ayam jauh dari nenek moyangnya yang awal, seperti contoh : ayam hutan.

 2. Teori domestikasi

    Domestikasi atau penjinakan adalah sistem yang dilakukan manusia, agar ayam dapat memberi nilai guna dan dapat dikembang biakan untuk tujuan komersial. Ayam peliharaan saat ini mengalami tahap domestikasi yang panjang yang berawal dari ayam hutan. Proses domestikasi ini terdapat dua teori yaitu : Teori monophyletic dan teori polyphyletic.

a.  Teori monophyletic
     Teori monophyletic dikemukan Charles Darwin, menurutnya ayam yam yanang berkembang saat ini merupakan ayam yang berasala dari satu jenis ayam hutan yang masih ada pada saat ini, yaitu Gallus gallus yang terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara

b.  Teori polyphyletict.
     Teori ini mengemukakan bahwa ayam peliharaan saat ini berasal dari beberapa jenis ayam hutan yang masih berada di hutan di dunia ini. 

      Ayam hutan yang masih berada saat ini memiliki empat jenis, yaitu :
1.)  Gallus gallus atau Gallus bankica (ayam hutan merah), terdapat di hutan-hutan Asia Tenggara.
2.)  Gallus sonnerati (ayam hutan kelabu), terdapat di hutan-hutan India Selatan.
3.)  Gallus laffaetti (ayam hutan selon), terdapat di hutan-hutan pulau Ceylon.
4.)  Gallus varius (ayam hutan hijau), terdapat di hutan-hutan pulau Jawa.

Teori onophyletic berdasarkan adanya bukti sebagai berikut
1.) Perkawinan ayam hutan merah (Gallus gallus) dengan ayam peliharaan menghasilkan ayam keturunan yang vertil. Sedangkan dengan Gallus varius menghasilkan keturunan invertil.
2.) Hasil tes darah menunjukkan, ayam peliharaan yang ada di berbagai wilayah di dunia mengandung darah ayam hutan merah (Gallus gallus).
3.) Pada jenis-jenis ayam peliharaan lokal sering dijumpai warna bulu yang mirip dengan warna bulu ayam hutan merah (Gallus gallus).
4.) Ayam peliharaan dewasa ini memiliki jengger yang bergerigi, sedangkan Gallus varius berjengger halus. 
5.) Ayam peliharaan memiliki sepasang pial di bagian samping rahang, sedangkan Gallus varius berpial tunggal bagian bawah kerongkongan.
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring dalam acara Forum Diskusi Industri Film Butuh Koperasi? [republika]
Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Meliadi Sembiring menegaskan, seluruh pihak termasuk insan perfilman di Indonesia harus sepakat dan satu persepsi bahwa industri film butuh wadah koperasi untuk menjalankan seluruh kegiatannya. Dari mulai ide, kreasi, produksi, hingga eksibisi (tayang film).
"Karena, koperasi itu merupakan kumpulan orang-orang dengan persepsi, visi, dan misi yang sama. Saya yakin syarat itu bisa terpenuhi karena dalam satu insan dan profesi yang sama," ungkap Meliadi dalam diskusi bertema Industri Film Butuh Koperasi?, di Jakarta, Rabu, 28 November 2018.

Di acara yang dihadiri belasan komunitas film yang ada di Sumatera, Jawa, Bali, dan NTB, Meliadi mengibaratkan industri film itu seperti sebuah pohon, di mana masing-masing memiliki fungsi dan peran. Akar mencari makanan, daun memasak makanan, dan dahan untuk tempat berbuah.

"Intinya, bagaimana menyatukan para kreatif membuat film berkualitas dalam satu wadah bernama koperasi," imbuh Meliadi.

Meliadi mengakui kalau dalam hitungan swasta, mungkin rugi. Tapi, kalau melalui koperasi, juga harus menguntungkan. Hanya saja, keuntungan bagi koperasi tidak melulu dihitung dari berapa banyak uang yang dihasilkan, melainkan juga dari benefit yang diciptakan.

"Benefit itu adalah bisa bermanfaat bagi banyak orang atau masyarakat sekitar," tandas Meliadi.

Dengan potensi ide kreasi yang banyak, lanjut Meliadi, industri film dari hulu hingga hilir bisa dikuasai dan dilakukan melalui koperasi.

"Jiwa koperasi adalah kebersamaan dan gotong royong, termasuk bagaimana menyangkut pembiayaan atau pendanaan dalam membuat program film," kata Meliadi.

Hal senada dikatakan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid. Menurut Hilmar, badan hukum koperasi merupakan bentuk yang tepat bagi industri kreatif, termasuk perfilman di Indonesia, untuk masa kini dan mendatang.

"Karena koperasi adalah sebuah institusi bisnis berbasis kerja sama. Bahkan, sudah meluas dan menjadi tren di kalangan anak muda melakukan bisnis berbasis kolaborasi," kata Hilmar.

Hilmar mengakui, ide dan kreasi di industri film nasional memiliki potensi yang luar biasa besarnya. Tapi, banyak dari ide dan kreasi itu yang tidak bisa terwujud menjadi sebuah program.

"Masalah industri dan insan film nasional adalah di sisi produksi dan eksibisi. Bayangkan, di Indonesia jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa hanya memiliki 1400 layar bioskop. Bandingkan dengan Korea Selatan yang sudah memiliki 10 ribu layar bioskop," ucap Hilmar.

Hilmar menyebutkan, jumlah film pendek dan dokumenter yang dihasilkan seperti lautan. Tapi, tidak pernah bisa masuk ke bioskop karena keterbatasan distribusi dan eksibisi.

"Kalau pihak swasta buka bioskop di kabupaten, apa untungnya? Tapi, kalau koperasi yang bikin itu solusi yang sangat tepat. Bagi saya, koperasi sangat tepat sebagai wadah bagi ekonomi kreatif dan pengembangan kebudayaan di Indonesia," tegas Hilmar.

Bagi Hilmar, koperasi itu basisnya kebersamaan dan memiliki kaidah keberlanjutan secara ekonomi. "Oleh karena itu, saya mendukung penuh industri film nasional berada dalam wadah koperasi," kata Hilmar.

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Deputi Kewirausahaan Kemenkop dan UKM, Budi Mustopo mengungkapkan, pihaknya memiliki program pelatihan yang bisa diakomodir kalangan industri perfilman di Indonesia.

"Kami membuka diri untuk kerja sama dengan kalangan komunitas film di seluruh Indonesia. Karena, karya film pendek itu sarana tepat promosi potensi yang ada di daerah di seluruh Indonesia," kata Budi.

Budi menambahkan, ada pelatihan kewirausahaan dan perkoperasian yang bisa dimanfaatkan kalangan komunitas film. Dua pelatihan itu bisa terwujud merupakan usulan kebutuhan dari masyarakat atau komunitas film.

"Bahkan, pada 2019 mendatang, komunitas kreatif termasuk perfilman di Indonesia menjadi prioritas program bagi Kemenkop dan UKM," tandas Budi.

Lebih dari itu, Amrul Hakim dari Indonesian Film Cooperative mengungkapkan, demokrasi ekonomi dalam industri film di Indonesia belum terwujud. Para sineas masih kesulitan mendapatkan pembiayaan untuk karya-karya film mereka. Kesejahteraan para sineas dan kru film di Indonesia juga masih timpang.

"Untuk itu, Indonesian Film Cooperative hadir sebagai platform bersama untuk meningkatkan kemandirian ekonomi para sineas dan kru film," papar Suroto.

Dengan prinsip koperasi, lanjut Suroto, para sineas dan kru film yang bergerak di sektor hulu (on farm) akan menciptakan layanan film (film services), seperti bioskop, festival dan promosi, serta marketing di sektor hilir (on farm) yang dimiliki bersama, dikelola bersama, dan diawasi bersama-sama secara kolektif.


Setelah Student Movement in Indonesia: they forced them to be violent, yang mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul (Oktober 2002), tak bisa disangkal, film Pantjasila, Cita-cita dan Realita, merupakan karya masterpiece Tino. Bukan hanya karena ia meraih beberapa penghargaan seperti Apresiasi Film Indonesia (2016), Piala Maya (2016) dan Usmar Ismail Awards (2017), tetapi juga karena gagasan Panca Sila, itu sungguh-sungguh menjadi ideologi dan pegangan hidup Tino Saroengallo, sejak remaja hingga dewasa, sampai ketika akhirnya ia dipanggil Allah Swt pada hari Jumat, 27 Juli 2018, hanya dua pekan setelah ia merayakan hari lahirnya yang ke-60 tahun, pada 10 Juli 2018.

Peredaran dan penayangan film "PCR" baik di bioskop umum maupun di sejumlah kampus dan komunitas, berlangsung bersamaan dengan proses pengobatan Tino di Singapura dan Jakarta.

Suatu hari, sekitar Agustus 2017, Tino menelepon saya, minta ketemu. Karena kebetulan saya dan istri saya Rayni N. Massardi ada agenda press-screening film Hollywood di Epicentrum XXI, kami pun janji bertemu di Epicentrum Walk, Kuningan. Tino ternyata sudah datang lebih dulu dan menunggu kami di café Daily Bread, tempat pertemuan yang sudah kami sepakati.

“Noor, gue mau bikin buku. Tapi elu yang jadi editornya,” kata Tino, tanpa menanyakan apakah saya bersedia atau tidak.
“Buku apaan, Tin?”
“Gue mau kumpulin semua “lepehan” gue di facebook dan media sosial lainnya, dari tahun 2010-an sampai sekarang,” kata Tino.
“Wah, berapa panjang itu? Pasti banyak sekali…!” kata saya.
“Iya, tapi, itu masih campur aduk. Harus dipilah-pilah dan dikategorisasi dulu. Karena gue ngoceh tentang apa saja. Mulai dari film, produksi film, resensi film, resensi buku, tentang sopir taksi, catatan perjalanan, politik, cerpen, puisi, termasuk tentang para manusia taik dan anjing kudis…!” katanya sambil menyeringai ngehek.
“Tungu dulu. Kalau itu terus terang gue enggak sanggup. Gue sekarang lagi nulis novel yang belum kelar-kelar. Mendingan lu gue kenalin sama Maman Gantra. Dia jago untuk urusan itu,” kata saya.
“Ya, udah. Terserah lu. Gue percaya kalau lu yang rekomendasi. Tapi lu tetap yang ngeditnya, ya…!” katanya.
“Okeh. Enggak apa-apa. Insya Allah,” kata saya sambil memberikan nomer kontak Maman Gantra.
“Terus kapan rencana terbitnya? Biar ada patokan dead-line,” kata saya.
“Kalau bisa sih tahun depan, 2018,” katanya.
“Eh, ngomong-ngomong, ulang tahun lu kapan?”
“Tanggal 10 Juli nanti gue 60 tahun…!”
“Wah, sudah tua bangka juga lu ya…?”
“Sialan…! Lu yang lebih tua dari gue tauk…!”
“Kalau gitu, target kita 10 Juli 2018 peluncurannya, ya. Bagus sebagai penanda ulang tahun lu yang ke-60. Keren, tuh…!” kata saya.

Usai urusan buku, Tino cerita ihwal apa penyakit yang dideritanya, dan bagaimana proses pengobatan yang sudah dan harus dia jalani, baik di Jakarta maupun di Singapura.
Pada hari pertemuan itu, Tino baru pulang berobat di Singapura dan tampaknya ada sedikit kemajuan, kendati ke mana-mana ia harus menggendong tas penampung urine, serta memakai tongkat.
Saya merasa prihatin melihat kondisi si “Belanda Gila” yang sudah saya kenal sejak zaman GRJS Bulungan awal 1970-an, dan masih bercelana pendek itu. Namun, mendengar dan membaca semangatnya untuk terus menulis, termasuk catatan perjalanan medisnya yang setiap saat ia bagikan di WA, saya juga kagum pada kenekadan dan keberaniannya menanggung derita di meja operasi. Tapi, apakah ia akan mampu mengumpulkan dan menerbitkan buku yang dicita-citakannya itu sesuai jadwal? Wallauhualam.
Selesai ngopi, ternyata Tino berminat untuk ikut press-screening yang kami selenggarakan. Ia pun menelepon istrinya, Dhama, dan mengajaknya nonton sekalian menjemputnya.
Awal November 2017, saya ke Bali untuk melanjutkan menulis novel yang masih terbengkalai karena urusan “duniawi.” Baru beberapa hari ancang-ancang dan siap-siap mengetik, tiba-tiba saya menerima notifikasi dari Maman Gantra dan Tino. Mereka mengabarkan baru mengirimkan email naskah berjudul “Meludah dengan Kata.” Judul itu merupakan hasil kompromi saya dengan Tino, yang semula mengajukan judul yang lebih sinis dan sarkastik serta “Tino Banget.”
Ketika membuka email itu, saya sangat terkejut. Ternyata Kang Maman mengirimkan naskah “Meludah dengan Kata” yang kami singkat jadi “MDK” sebanyak tiga jilid. Setiap jilidnya berkisar antara 400 sampai 500 halaman komputer ukuran A4. Semua sudah terpilah dan terkategorisasi dengan cukup baik. Sungguh dahsyat! Dan, saya sangat kagum pada kemampuan Kang Maman yang dalam tempo singkat berhasil mengaduk-aduk lebih dari 5.000 items tulisan, dan mengkompilasinya menjadi seperti itu.
Akhirnya, argometer di Bali yang semula untuk novel, itu saya alihkan dan fokuskan untuk mengedit MDK-1. Terutama karena mengingat kondisi Tino yang semakin buruk, sebagaimana ia sering laporkan melalui WA.
Pada 18 November 2017, saya kirimkan hasil editing saya kepada Tino, agar bisa lebih cepat diproses, karena Tino juga sudah menghubungi beberapa pihak yang konon menjanjikan akan membantu mensponsori penerbitan buku-buku itu.
Dalam pengantar email itu saya menulis begini:

gila.
seminggu di bali bukannya nulis novel baru malah melototin dan ngoreksi huruf demi huruf draft buku yang enggak jelas ini.
toh, dari draft ini gue baru tahu ternyata:
1.    bule gila ini bisa juga nulis yang baik dan bener
2.    banyak juga nonton film yang bener-bener bagus
3.    penilaiannya hampir sama dengan pendapatku untuk hampir semua film yang
pernah aku tonton (asing maupun nasional)
4.    masih tetep gila
udah ya gue mau nulis novel dulu, 
argo jalan terus nih di bali.
draft mdk 2 dan mdk 3 lain waktu lagi ya

Sejak itu, saya tidak pernah berjumpa langsung dengan Tino. Pelbagai kabar tentang dia saya baca dan terima melalui WA. Tino juga rupanya sudah menonaktifkan akunnya di fb. Dia sempat meminta saya menyunting MDK-3 dulu karena baru kemudian MDK-2. Saya hanya bilang oke, dan karena kesibukan, belum lagi membuka kedua file itu. Sampai tahun berlalu dan memasuki 2018, saya belum menerima kabar dari Tino bagaimana nasib MDK-1 yang sudah saya kirim. Ia hanya mengatakan sedang menyusun foto-foto yang sesuai dengan teks. Saya sempat mengingatkan agar menyangkut satu dua nama, sebaiknya diperhalus agar tidak menimbulkan perkara hukum, mengingat begitu mudahnya orang melaporkan unggahan di media sosial dengan menggunakan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik No 19/2016. Tino pun mengiyakan. Tino juga mengabarkan akan menjalani kemo lebih dari 30 kali di Jakarta, karena ternyata "sel-sel nakal" (istilah Tino) yang semula di kandung kemih itu sudah menjalar ke bagian tubuh lainnya.

Pada Juni 2018, saat akhir Ramadhan, saya mendengar kabar Tino dirawat di rumah sakit. Saya belum sempat membesuknya, karena kebetulan baru diundang dan ditraktir putri sulung kami, Cassandra Massardi dan suaminya Bramasta Juan Sasongko, untuk liburan selama 15 hari. Kami pun berlebaran di Paris, dalam perjalanan napak-tilas, setelah 18 tahun tidak pernah "mudik" ke Paris. Lanjut ke Bali dan baru sampai Jakarta tanggal 2 Juli.
Pada 3 Juli, seorang sahabat mengabarkan kondisi Tino memburuk dan tengah dirawat di RS Pondok Indah. Kabarnya Tino memaksa minta pulang dari rumah sakit. Baru pada Rabu 4 Juli sore, kami bisa datang ke rumahnya, di Bintaro Paradis, 30 menit dari rumah kami di Bintaro 9, karena hari itu Tino diizinkan pulang.
Setelah sekian lama tidak berjumpa, melihat kondisi Tino di kursi rodanya, kami merasa sangat prihatin. Tubuhnya tampak susut. Duduk di atas kursi rodanya, infus makanan tergantung di atasnya. Sementara lambungnya tampak menggembung dengan dua selang eksternal untuk urine dan pembuangan. Tapi saat itu Tino tampak tengah merokok Bentoel Biru, kretek teman hidupnya, menjelang habis sebatang.
"Wah, sudah boleh merokok nih...?!" kata saya menyapa dan menyalaminya.
"Lu kayak gak pernah lihat gua ngerokok aja...!" kata Tino sambil mematikan rokoknya di asbak.
Saat itu, saya, dan Rayni, ditemani Tace, staf pribadinya, dan Mas Bagjo Indrijanto, sahabatnya. Sementara Dhama, istrinya, kemudian masuk ke dalam rumah, membiarkan kami mengobrol.
"Iya, gue lihat di fb. Gue heran juga kalian bisa kembali ke Paris...!" kata Tino ketika kami mengabarkan baru bisa datang karena ditarktir liburan oleh Cassandra (Kasih). "Hebat juga anak itu. Mungkin si Kasih bosen lihat kalian bolak-balik ke Bali melulu. Kalau mau berjemur, di sini aja, di teras rumah gua juga bisa...!" kata Tino sambil tertawa.
Tino kemudian membahas ihwal rencana penerbitan bukunya. Lalu Tace diminta membawakan dummy buku Dongeng Produksi Film (Asing) Dari Sudut Pandang Manager Produksi, dan Meludah dengan Kata - 1 Tentang Film dan Perfilman - yang sudah lama selesai saya edit itu. Ukurannya masih A4. Rupanya itu merupakan cetak langsung dari draft naskah yang sudah disusun Tino dalam format pdf.
Tino mengeluhkan ihwal penerbit yang semula siap, tapi karena tidak ada kecocokan, terutama karena tidak mampu menghubungi calon sponsor yang disodorkan, akhirnya diputuskan Tino untuk diterbitkan sendiri. Dummy buku itu dicetak oleh rekanannya, yang siap mengubah ukuran dari A4 menjadi B5, tanpa mendesain ulang. Rencananya, akan dicetak terbatas dulu @ 100 eksemplar.
Ketika saya membuka-buka dummy itu saya terkejut saat membaca riwayat hidup Tino yang mencantumkan tanggal lahirnya, 10 Juli 1958. Artinya, tinggal enam hari lagi dari hari itu. Saya pun teringat rencana awal dulu untuk menerbitkan semua bukunya pas hut Tino yang ke-60.
Mengingat kondisi Tino saat itu, dalam hati saya yakin anytime bisa dipanggil menghadap Tuhan, saya pun penuh semangat mengingatkan ihwal rencana itu. Tino pun rupanya menyadari hal itu, dan langsung mengiyakan.
Dalam pembicaraan singkat itu, intinya Tino setuju launching kedua buku itu, pada Selasa, 10 Juli 2018, menandai HUT nya yang ke-60. Kami pun sepakat acara dilakukan di rumahnya, di teras depan, dan hanya mengundang sejumlah teman dekatnya.
"Herry sudah siap mencetak @ 100 eksemplar," kata Tino, sambil memberikan nomer telepon Herry.
"Siapa lagi yang bisa gue hubungi untuk urusan teknisnya? Icang? Abdul?" kata saya.
"Iya, Icang S Tisnamiharja dan Abdul bisa. Lu kontak juga Bude Dotty, untuk urusan buku itu," kata Tino sambil memberikan nomer kontak mereka bertiga.
"Kemungkinan tanggal 10 Juli itu gue sudah di ruang operasi. Tapi lanjut aja. Apa pun yang terjadi. Kan dari rumah sakit kita bisa kontak melalui video call," kata Tino.
"Siap, bro...! Cepat sembuh, ya...! Gue mau ngebut edit MDK-2 dan MDK-3 sekaligus ya, bro...!"
"Oke, ngebut ya. Trims Noor...!" kata Tino.
Karena tak mau mengganggu lebih lama, kami pun pamit pulang. Dengan kursi rodanya Tace mendorong Tino ke dalam, dan ia ditinggalkan di ruang tamu menghadap rak-rak rumahnya, menunggu hingga saat dipindahkan ke ranjangnya di sudut rumah tak jauh dari situ. Dhama masih belum keluar ketika kami pulang menunggu jemputan taksi online.
Malam harinya saya mengirim WA ke sejumlah teman dekat, terutama yang tinggal di kawasan Bintaro. Saya agak panik juga mengingat hanya punya waktu lima hari kerja. Apakah buku bisa siap? Kalau buku Dongeng Produksi Film (Asing) Dari Sudut Pandang Manager Produksi, memang tengah diproses re-sizing-nya jadi B5. Tapi Meludah dengan Kata - 1 Tentang Film dan Perfilman belum diapa-apain.
Sepanjang perjalanan saya kontak Icang dan Abdul. Mereka menjawab siap. Saya hubungi Mas Herry percetakan yang belum pernah saya kenal. Dia menjawab siap untuk yang Dongeng, tapi belum berani janji untuk yang MDK-1. Saya kontak Mbak Dotty yang juga belum pernah saya kenal. Saya jelaskan semua permasalahan dan rencananya. Tapi, kendati hal-hal teknis mungkin bisa teratasi, tapi bagaimana reaksi teman-teman dekat Tino yang juga saya kenal? Saya harus sounding kemungkinannya. Malam hari, setiba di rumah saya kirim WA ke beberapa orang. Kalau menurut mereka oke, kita jalan. Tapi kalau tidak, terpaksa kita batalkan.

Dear All
Selasa 10 juli 2018 sahabat/kerabat/saudara kita Tino Saroengallo genap 60 tahun. Tino ingin merayakan di rumahnya (Kompleks Bintaro Paradis Kav 6, Bintaro Jaya) dgn meluncurkan 2 (dua) buku yg ditulisnya tentang produksi film dan pengalamannya di dunia film/teater/sastra/jurnalistik. Kedua buku tsb akan dicetak khusus @ 100 exp dan dijual dgn harga pengganti biaya cetak. Namun mengingat kondisi kesehatan Tino yg mungkin harus menjalani operasi berat pada hari-hari itu, Tino berpesan apa pun yg terjadi, acr tsb hrs ttp berjalan. Apakah Anda berkenan berperanserta dlm acr tsb? Baik dlm bentuk kehadiran/narasumber/mendoakan dll sebagai tanda cintakasih kita kpd Tino? Mohon saran/masukkan segera. Salam hangat. (Noorca M. Massardi - HP/WA: 081386075657)
(INI BUKAN UNDANGAN MOHON JANGAN DISEBAR DULU!!!)

Sejumlah teman menyanggupi dan siap berperanserta. Tapi ada yang langsung panik menjawab jangan. "Kami lagi konsentrasi menggalang pendanaan untuk biaya rumah sakit yang tidak kecil. Lebih baik tunda sampai kondisi TS lebih baik dan lebih jelas," katanya.
Saya meminta Mbak Dotty mengkoordinasikan semuanya. Tenda, kursi, soundsystem, dan catering. Juga mengundang teman jaringan Tino yang tidak saya kenal. Saya hanya menyanggupi mengundang komunitas Bulungan dan teman-teman media. "Kalau jaringan Tino diundang seindonesia pasti datang," kata Mbak Dotty.
Sambil berkomunikasi ihwal rencana mendoa, launching buku, dan HUT Tino 10 Juli, itu saya langsung mengedit naskah MDK-2 yang sudah lama tidak saya buka. Siapa tahu masih bisa mengejar jadwal cetak.

Kamis pagi, 5 Juli, saya mendapat kabar Tino dilarikan kembali ke RSPI. Kondisinya memburuk. Karena sudah mendapat amanah "apa pun yang terjadi acara jalan terus" dari Tino, saya tetap fokus pada rencana itu. Siang hari, karena tidak enak kalau tidak meminta izin kepada Dhama, istrinya Tino, saya mengirim WA menanyakan jam berapa sebaiknya acara dilakukan. Siang sore atau malam?
Dhama terkejut. Tino tidak pernah memberitahukan soal rencana HUT dan launching buku pada 10 Juli di rumah itu. Tapi kalau mau lanjut, sebaiknya di tempat lain. "Karena saya lebih memprioritaskan kesehatannya ketimbang HUT atau launching buku," kata Dhama.

Saya juga kaget oleh jawaban itu. Lalu saya jelaskan tentang pertemuan awal sekali dengan Tino Agustus tahun lalu, ketika Tino meminta saya mengedit bukunya, dan kesepakatan kami untuk launching pas HUT Tino yang ke-60. Saya kemudian kontak Mbak Dotty dan melaporkan.
"Memang sebelumnya tidak pernah membicarakan soal ini dengan Bu Dhama?" kata Dotty. "Belum." "Saya sudah menduga hal itu. Jadi, sebaiknya Bu Dhama saja yang putuskan," kata Dotty.
Siang harinya Dhama kirim WA. "Barusan saya obrol sama Tino, acara itu bisa dimundurin setelah dia pulih. Gak harus jadi target teman2 ya, Mas."
Saya pun pasrah. Apalagi hari itu Tino siap dioperasi. Lalu saya mengabarkan kepada teman-teman yang pernah saya kirimi WA:

dear all, 
sehubungan sikon sdr/sahabat/kerabat kita Tino Saroengallo yg kritis di RSPI, dan setelah mbak Dhama bicarakan dgn Tino, maka rencana acara doa/hut/launching buku TS pada Selasa 10 Juli 2018 - DITUNDA - sampai perkembangan lebih lanjut. Salam dan terima kasih atas perhatiannya. (Noorca M. Massardi)

Dan, mengingat kondisi pasca operasi beberapa hari kemudian, semua sahabat disarankan untuk tidak membesuk Tino di RSPI hingga Selasa, 10 Juli. Tepat pada HUT-nya Tino.

Saya pun menghubungi Mbak Dotty, menjelaskan masalahnya, dan saya sepakat untuk membatalkan acara tanggal 10 Juli. Tapi, Mbak Dotty tetap akan mencetak beberapa exp kedua buku itu, untuk disampaikan kepada Tino pada 10 Juli, agar Tino puas keinginannya sedikit tercapai. Walau tidak jadi launching, dua bukunya yang sudah diperbaiki sudah bisa sampai di tangannya.

Pada Selasa, 10 Juli, saya mengirimkan WA:

HBD Tino saudaraku. Semoga Allah swt selalu melindungi dan menyayangimu sekeluarga. Tabah, tawakkal dan ikhlas atas segala cobaanNya. Semoga selalu dilimpahi kesabaran, rezeki, dan kemudahan. Insyaallah amin3.

Sabtu 14 Juli Dhama mengabarkan bahwa karena secara medis tidak ada lagi yang bisa dilakukan tim RSPI, Tino pun dibawa pulang untuk menjalani perawatan di rumah. Karena pelbagai kesibukan, terutama saya masih ngebut menyunting MDK-2, kami baru bisa menengok Tino di rumahnya Kamis, 19 Juli. Kami janjian dengan Leila S. Chudori, untuk membesuknya bersama-sama. Rumah Leila memang tak jauh dari rumah kami. Dan, kami pun bertiga sampai di rumah Tino sore hari.
Namun, Tino ternyata sudah tidak bisa mengenali kami. Hanya bisa menggaruk-garuk tubuh dan menyebut nama seseorang nonstop, dengan pandangan kedua bola mata kosong. Di ruang depan itu, Leila, yang oleh Tino selalu disebutnya sebagai "orang yang telah menjebloskan saya ke dunia audio visual," itu hanya bisa meneteskan air mata melihat kondisi Tino. Saya juga tidak tega melihatnya. Akhirnya, setelah beberapa menit tidak ada perubahan, kami pun pamit.
"Tino dalam fase delirium. Terutama setiap malam. Dia tidak bisa tidur," kata Marinus R. Saroengallo, adik kandung Tino, saat mengantarkan kami keluar rumah.

Setiba di rumah, saya mendoakan, bila memang Allah swt menghendaki, semoga Tino dipanggil pulang esok hari, kebetulan hari Jumat, hari yang baik menurut orang Islam. Dan, setahu saya, Tino sudah mejadi mualaf, sejak menikah dengan Dhama.
Hari-hari terus berlalu. Kondisi Tino belum berubah. Ketika saya menyunting MDK-2 sampai pada sekumpulan puisinya, saya tercenung beberapa saat. Walau Tino bukan penyair, dan karya-karya puisinya ditulis semaunya, tapi ada beberapa puisi tentang kesendiriannya yang mengharukan. Saya minta Rayni untuk membacanya. Rayni langsung meneteskan air mata. Saya juga tak kuasa menahan rasa haru. 
"Kasihan sekali Tino...! Kenapa dia harus menderita seperti itu...? Apa sih rencana Tuhan untuk dia...?" kata Rayni sambil menyeka air matanya.

Kebenarannya…
Apalah arti membanting tulang?
Apalah arti memberi nafkah?
Kalau hanya menghasilkan itu…
Apalah arti karya dan prestasi diri?
Apalah arti kekaguman orang terhadap diri?
Kalau hanya mengakibatkan itu…
Apalah arti pergaulan nan luas?
Apalah arti banyak pertemanan?
Kalau hanya berujung pada itu…
Itu adalah kebencian anak istri…
Itu adalah keluarga yang membenci…
Itu adalah kesendirian dikelilingi kebencian…
Keseharian pun selalu dikepung kebencian…
Kebencian dari mereka yang dikasihi…
Terhadap diri yang selalu kesepian…
Itulah kebenarannya…
Jakarta, 23 Desember 2014
***
Sama Saja…
Sanur,
Setahun di sana,
Pulang menuju sepi,
Kamar hotel meski berteras…
Los Angeles,
Tujuh bulan di sana,
Pulang diterima sunyi,
Kamar tumpangan yang berteras…
Jakarta,
Bertahun di sini,
Pulang disambut kebekuan,
Rumah sendiri yang berteras…
Jalan hidup,
Dengan kesendirian,
Menuju kesendirian,
Tiba di kesendirian.
Akirnya…
Menyatu dengan alam semesta...
Jakarta, 20 Januari 2015
***
Saya melihat kalender di sudut komputer. Kamis tengah malam, menjelang Jumat dinihari, 27 Juli 2018.
Jumat pagi, 27 Juli 2018. Kami terbangun. Ada notifikasi WA dari Dhama:

Pukul 08.29:
Pagi... Kondisi Tino dalam keadaan tidur masih dengan suara gerungan. Tensi pagi ini 65/50. Mulai terdapat pembuluh yang pecah di telapak kaki.

Beberapa saat kemudian, ketika saya tengah bersiap-siap untuk salat Jumat di Masjid Daarut Tauhid, di depan rumah. Masuk lagi WA dari Dhama:
Pukul 10:14: 

Innalillahi wa inna ilaihi roojioun.. Allahummaghfir lahuu warhamhu wa’aafihii wa’fu ‘anhu. Telah meninggal dunia suami/bapak Tino Saroengallo. Jumat, 27 Juli 2018, pukul 09.10. Semoga almarhum husnul khatimah dan Allah swt menerima semua amal ibadah beliau dan mengampuni seluruh kesalahannya.

Selamat jalan sahabatku, saudaraku, semoga husnul khotimah.

Noorca M. Massardi
Legian, Kuta, Kamis, 16 Agustus 2018

https://www.facebook.com/noorca/posts/10217712558953893









Tino itu manusia langka. Kemunculannya di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS), Jalan Bulungan, Kebayoran Baru, pada awal 1970-an, remaja keturunan Indo-Belanda itu sudah menampakkan keunikannya. Ia bisa langsung akrab dan gaul dengan kelompok lukis Sanggar Garajas dan Teater Bulungan, yang kebanyakan anggotanya adalah pelajar dan mantan anak sekolahan, alias pengangguran.
Sebagai anak Indo, ia tak pernah membanggakan penampilan sosoknya. Setiap kali datang berpakaian robek, memakai gelang dan kalung manik-manik bikinannya sendiri, dan kemudian menjualnya, semua orang pun bisa menerima dan memakluminya. Ia juga tak pernah memperlihatkan kecerdasannya, karena setiap kali datang ia hanya bercanda dan tak pernah pamer ilmu.
Ia justru selalu ngebacot semaunya, menggunakan dialek Betawi, dan bersumpahserapah sembarangan. Tapi anehnya, dan lucunya, semua omongannya tak pernah dianggap sebagai cacian yang merendahkan lawan bicara. Baik dengan yang lebih muda, yang sebaya, maupun yang lebih dewasa umurnya. Pada umumnya, semua orang yang berhadapan dengannya, sudah harus paham dan maklum, bahwa Tino sesungguhnya orang baik, hormat kepada senior, dan tidak pernah jahil atau berlaku kasar. Apa pun yang diucapkan atau dilakukannya, betapa pun kasar dan menyakitkan ejekannya kepada semua orang, ternyata bisa diterima siapa saja. Karena bagi mereka, Tino adalah "Londo Edan" (Belanda Gila).
Kemunculannya yang hilang timbul di GRJS Bulungan, baru diketahui alasannya belakangan, sebagaimana dituliskannya di dalam trilogi Meludah dengan Kata ini. Toh, kendati sering menghilang, Tino tidak pernah sungguh-sungguh pergi dari lingkungan Bulungan. Meskipun, saya pribadi, tidak pernah tahu minat dan bakatnya yang sesungguhnya. Karena di senirupa Garajas ia tidak lama, dan di teater Bulungan hanya ikut pementasan beberapa kali. Sementara di bidang sastra dan jurnalistik, kegiatan yang paling mencerminkan "citra" Bulungan saat itu, ia juga tidak pernah ikut atau tertarik bergiat di dalamnya.
Sebagai pribadi, ia juga tidak pernah dikenal atau diketahui sebagai "playboy" karena tidak pernah tampak bergonta-ganti teman perempuan. Mungkin hanya satu atau dua orang yang sempat diajak dan diperkenalkannya ke lingkungan Bulungan. Apalagi ketika kemudian saya ke Perancis (1976-1981), saya tidak banyak tahu lagi sepak-terjangnya. Yang pasti, Tino orang yang menyenangkan dan selalu mampu membuat semua orang tertawa.
Kami (saya dan istri saya Rayni N. Massardi), baru ketemu lagi dengan Tino sekitar 1980-an, ketika tiba-tiba ia datang ke rumah kami di Rue de Belleville, Paris. Dan, Tino, ternyata satu-satunya teman eks Bulungan yang pernah datang dan bertemu kami di Paris. Saat itu, rupanya Tino baru datang dari Belanda, untuk mengurus dana pensiun ibunya, seorang dokter asal Belanda, LWJ Langendoen Saroengallo. Ia juga bercerita kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), Jurusan Sastra Cina, dan pernah beberapa bulan tinggal di Taiwan. Saya yang cukup takjub, kemudian memintanya berbicara bahasa Cina, ketika mengajaknya belanja sembako di sekitar Belleville, di toko milik warga Cina-Vietnam. Dan, ternyata dia memang bisa he he he...
Sekembali di Jakarta, ketika saya bekerja di Harian Kompas (1982-1985), kami beberapa kali ketemu di pelbagai kesempatan. Terutama karena ia sering mengunjungi koleganya, Rene L. Pattirajawane, lulusan Sastra Cina FSUI, yang bekerja di Kompas. Saya kemudian tahu bahwa ia bekerja sebagai pewarta di Mutiara dan kemudian di majalah berita X'Tra yang tak berumur panjang.
Ketika majalah X'Tra berhenti terbit, saya memintanya bergabung di Majalah Berita Bergambar "Jakarta-Jakarta" ("JJ") yang saya pimpin dan dirikan (1985-1989). Tino pun kemudian bergabung, sebagai Redaktur, hampir bersamaan dengan Leila S. Chudori, berdasarkan kontrak-kerja, mengingat saat itu Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang menaungi "JJ" tidak boleh lagi mengangkat karyawan tetap. Sayang kebersamaan kami tidak lama, karena pada 1 April 1989 saya mengundurkan diri dari "JJ" diikuti Leila dan kemudian Tino, yang kontraknya diputus KKG secara sepihak.
Berkat perkenalan dengan Leila di "JJ" itulah, Leila kemudian memperkenalkan Tino kepada Jeremy Allan, mantan koresponden majalah berita asing di Jakarta, yang mengajaknya terjun ke dunia audio visual. Dunia yang terus diikutinya, yang memperkaya wawasan dan pergaulannya, serta yang kelak memberinya pelbagai penghargaan, hingga akhir hayatnya. "Leila yang menjerumuskan saya ke dunia audio-visual," kata Tino selalu.
Begitu keluar dari "JJ" saya dan Tino bersepakat untuk mendirikan lembaga sindikasi, yang memasok tulisan, foto, dan features ke pelbagai media (cetak) yang ada, sebagaimana sindikasi di luar negeri. Namun, mengingat situasi dan kondisi kami masing-masing, saya kemudian mempersilakan Tino jalan sendiri melanjutkan gagasan itu dengan mendirikan Jakarta Media Syndication (JMS) dan mengumpulkan sejumlah rekannya. Sementara saya mendirikan PT Jakarta Media Communication (JMC), yang menyediakan layanan konsultasi media dan menjual karya foto jurnalisme dari tiga agen foto jurnalisme terbesar dunia kala itu, Sygma, Gamma dan Sipa Press, yang kebetulan semuanya bermarkas di Paris.
Lama tidak bertemu, suatu hari Tino mengundang saya ke studio RCTI di Kebon Jeruk, untuk membuat rekaman contoh program yang dibuatnya bersama Scott Gregory dari Rocket Production House. Program lokal "Cinema-Cinema" itu ditawarkan ke RCTI, yang saat itu baru berdiri sebagai tv swasta pertama di Indonesia. Ketika itu, saya sendiri tengah bekerja sebagai Redaktur Eksekutif di majalah "Vista FMTV" di bawah naungan PT Surya Persindo. Kami hanya membuat satu episode contoh.
Beberapa hari kemudian, program yang menampilkan saya sebagai pembawa acara itu diterima. Sehingga, sejak 1991 itulah, saya bersama Zoraya Perucha, tampil setiap Sabtu sore, membawakan acara "Cinema-Cinema" yang berupa rekaman (bukan tayangan langsung - live), dengan sponsor utama jaringan Cineplex XXI (d/h 21). Berkat Tino itulah saya diperkenalkan kepada para petinggi XXI, terutama pak Harris Lasmana, yang memungkinkan saya dan Rayni, terus bekerjasama sampai hari ini, hingga saya sempat menjadi "juru bicara" Kelompok XXI selama sepuluh tahun.
Materi "Cinema-Cinema" yang kami bawakan, dibuat berdasarkan skrip yang dibuat Tino. Namun, teks itu kadang saya koreksi langsung di lapangan saat rekaman, dan seringkali ditertawakan Tino, bila beberapa kali saya salah ucap. "Mampus, lu...! Rasain kalau enggak mau ngikutin naskah gua...!" kata Tino ngehek, kendati ia tidak pernah marah kalau dialog yang ditulisnya untuk saya, selalu saya ubah sesuai kemauan saya.
Lalu, mengapa Tino saat itu memilih saya sebagai presenter "Cinema-Cinema" sehingga "label" itu terus melekat pada saya hingga sekarang? Saya baru mendapatkan jawaban langsung dari Tino, beberapa hari sebelum meninggal. "Gua memilih orang yang mengerti film," katanya serius, di atas kursi roda, di teras rumahnya di Bintaro Paradis, Tangerang Selatan.
Pelbagai kegiatan Tino kemudian saya baca dan lihat di layar bioskop, di media massa dan media sosial. Beberapa kali juga ketemu di Bali. Di hotelnya di Kuta, di cafe Batujimbar, Sanur, bahkan di bandara Ngurah Rai. Terutama ketika ia sibuk mempersiapkan produksi film Hollywood "Eat, Pray, Love." "Lu gak mampu bayar gue sekarang, karena rate gue pake dollar...!" katanya ngehek sambil cengengesan.
Toh, kendati lama di Bali dan berurusan dengan pelbagai lapisan masyarakat dan birokrat, tak membuatnya jatuh cinta kepada Bali. Tidak seperi kami. "Memang Bali itu indah. Tapi manusianya ngehek, maruk duit, dan mereka terang-terangan minta, gak pake malu, di desa dan di kota, dari kasta terendah sampai kasta tertinggi. Makanya, gue paling benci kalau diminta syuting dan kerja di Bali. Kalau bisa gue tolak. Banyak mantai dan ankud. Asal lu tau aja...!" katanya serius, sementara saya hanya terpana mendengarkan pengalaman dan penjelasannya ihwal Bali dan masyarakatnya. Sesuatu yang berada di luar "Bali versi kami."
Begitulah waktu berlalu. Berkat FB dan WA kami pun sekali-sekala menjalin kontak. Dan, saya baru bertemu lagi dengan Tino ketika dia mengundang saya ke sebuah studio rekaman di bilangan Pejaten dan kemudian di Jeruk Purut, Jakarta Selatan, sehubungan filmnya "Pantja Sila, Cita-cita dan Realita", sebuah rekonstruksi pidato Bung Karno di Sidang BPUPK, saat Bapak Bangsa itu menguraikan gagasan besarnya tentang Panca Sila, yang kemudian diterima sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Saya diminta memperbaiki pengucapan Tyo Pakusadewo Tio sebagai Bung Karno, setiap kali ada kutipan tentang kata, kalimat dan nama-nama orang Perancis.
"Ini beneran? Emang masih punya duit, lu....?" kata saya kepada Tino, ketika salah seorang stafnya memberikan sebuah amplop berisi uang pengganti uang transpor taksi online.
Tino hanya tersenyum. Padahal dia baru bercerita ihwal proses pembuatan film itu, yang tertunda beberapa tahun karena masalah pendanaan. Ketika itu pula saya baru tahu ihwal penyakit yang diderita Tino. "Ada sel-sel nakal di kandung kemih, dan gue sudah kerik. Tapi kalau hasil biopsinya serius, gue harus operasi di Singapura," katanya. "Untung banyak teman gue di Amrik yang mau bantu, jadi soal biaya sementara tidak masalah," katanya lagi.
Begitulah, dari proses ke proses, di Jakarta dan Singapura, dijelaskannya dengan sangat rinci, dan dikirimkannya melalui WA, kepada semua sahabatnya, seolah laporan pertanggungjawaban. Laporan yang kemudian dikumpulkannya dan rencananya ingin diterbitkan sebagai buku.
Saya bertemu lagi dengan Tino saat menghadiri preview film "Pantja Sila...", di Taman Ismail Marzuki. Usai acara itu, Tino meminta bantuan saya untuk membuat press-screening di Epicentrum XXI, menjelang tayang serentak di bioskop pada Agustus 2016. "Nanti lu tolong sekalian bikin semacam release untuk mengantarkan film ini, terutama untuk pers, ya...," kata Tino sambil tersenyum ngehek, sebelum saya pamitan, karena dia sudah tahu, saya pasti tidak mungkin bisa menolaknya.
Pada 19 Juli 2016, saya mengirimkan tulisan pengantar untuk pers ihwal film "PCR" sebagaimana yang diminta Tino. Lalu, ia menjawab email saya itu: "Keren, Om tulisannya. Ane rasanye kenal penulisnya akhir 1980-an. Ha ha ha... bravo... trims berat... Vintage habis."

Noorca Massardi

https://www.facebook.com/noorca/posts/10217712558953893