Articles by "Tradisi"
Showing posts with label Tradisi. Show all posts
Pawai Budaya puncak Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, 9 Desember 2018. [ferilatief]
Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 diselenggarakan di tengah intoleransi dan konservatisme yang semakin meningkat, yang di beberapa tempat mulai mengancam keberadaan tradisi dan budaya asli yang dianggap tak sesuai dengan ketentuan agama tertentu.

Kebudayaan yang inklusif menjadi kunci menghadapinya, kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, yang menyelenggarakan KKI 2018 ini.

"Sifatnya saling belajar, saling mengenal, saling tahu sudut pandang orang yang berbeda, berusaha memahami, empati, sehingga kemudian toleransi akan muncul dari pemahaman, bukan karena doktrin," ungkapnya, di sela-sela Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, yang berlangsung mulai Rabu hingga Ahad, 5-9 Desember 2018.

Hilmar mengaku, memahami jalan pikiran pihak-pihak yang yang menganut konservatisme. Menurutnya, keterbatasan pengalaman dan lingkungan di mana mereka bergaul menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai mereka.

"Saya juga tidak setuju kalau misalnya 'harus toleran', 'harus Bhinneka Tunggal Ika', dan sebagainya, tapi enggak kasih jalan, gimana sih caranya harus menjadi Bhinneka Tunggal Ika?" lanjutnya. 

Ia menegaskan, strategi mengelu-elukan multikulturalisme dan retorika saling menghargai tidak cukup untuk menembus 'tembok-tembok' yang dibangun oleh sebagian pihak untuk mengkotak-kotakkan kelompok masyarakat.

"Yang kita perlu lakukan sebelumnya di pemerintahan itu (adalah) memperkuat daya cerna kebudayaan orang, sehingga dia bisa menerima apapun yang dia lihat tanpa buru-buru kemudian mengambil sikap menolak," ujarnya.

Itulah, katanya, semangat kongres kebudayaan 2018 ini. 

Tidak seperti kongres-kongres sebelumnya yang didominasi diskusi budaya dan presentasi makalah, tahun ini, kongres juga menampilkan beragam jenis budaya nusantara, dan rencananya akan menelurkan produk konkrit berupa Strategi Kebudayaan.

Dokumen ini merupakan rangkuman aspirasi dan harapan pelaku kebudayaan dari lebih dari 300 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.

Terdapat tujuh isu strategis dalam Strategi Kebudayaan tersebut, salah satunya yaitu praktik pemikiran kebudayaan yang menghadapi tantangan, baik akibat globalisasi, maupun pembenturan kebudayaan dengan agama.

"Nantinya, Strategi Kebudayaan ini akan disusun menjadi Rencana Induk Pemajuan Kebudayaan (RIPK), yang akan menjadi acuan pemerintah dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di masa yang akan datang," demikian kata Hilmar sebagaimana dikutip BBC News Indonesia.
Warga Desa Ujung Pandaran hendak melarung sesajen di laut pada kegiatan Simah Laut beberapa tahun lalu. [borneonews]
Acara Simah Laut di Pantai Ujung Pandaran, Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada 1 Desember 2018 tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal. Namun prosesi melarung sesajen ke laut ditiadakan. 

"Hasil rapat Camat Teluk Sampit dengan tokoh masyarakat Desa Ujung Pandaran, Simah Laut tetap dilaksanakan, hanya saja prosesi melarung sesajen ditiadakan," ujar Camat Pulau Hanaut Juliansyah, Kamis, 29 November 2018. 
Prosesi melarung sesajen ditiadakan karena dinilai menyalahi ajaran agama Islam. Atas dasar ini warga di sana menolaknya.
"Jadi kegiatan Simah Laut nantinya akan dilakukan dengan doa bersama masyarakat dan juga makan bersama. Sedangkan prosesi lainnya akan dihilangkan," ungkap Juliansyah. 
Kamis pagi, 29 November 2018, warga Desa Ujung Pandaran menolak adanya prosesi melarung sesajen ke laut pada kegiatan Simah Laut. Karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Warga meminta acara seperti dulu lagi, yakni tasyakuran kampung dan makan bersama masyarakat di desa tersebut. 
Penolakan warga tersebut atas dasar pesan Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu, saat mengisi ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW, beberapa waktu lalu. Di mana Habib  berpesan agar proses melarung sesajen ke sungai atau ke laut dihilangkan. 
Hal itu disampaikan, karena Habib Akhmad tidak ingin musibah yang terjadi di Palu, juga terjadi di Ujung Pandaran. Karena, saat datangnya gempa dan tsunami, di Pantai Talise Palu sedang ada ritual melarung sesajen ke laut.(borneonews)
Salah satu penyelenggaraan acara Simah Laut di Pantai Ujung Pandaran, Kalimantan Tengah. [borneonews]
Warga di Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menolak acara Simah Laut yang jadi agenda rutin pemkab setempat. Alasannya, mereka tak ingin musibah seperti yang terjadi di Palu berulang di wilayahnya.
Warga menganggap agenda melarung sesajen akan berdampak seperti halnya di Palu yang baru-baru ini terkena musibah Tsunami dan gempa bumi.
"Acara itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Warga meminta acara seperti dulu, hanya tasyakuran kampung dan makan bersama," kata M Khairudin, warga setempat,  Kamis, 29 November 2018.
Menurut remaja mesjid tersebut, warga menolak juga atas dasar pesan Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu saat mengisi acara maulid di Masjid Quba Desa Ujung Pandaran.
"Beliau berpesan, yang kebetulan hadir Kepala Desa Ujung Pandaran dan Camat Teluk Sampit, agar acara Simah Laut atau melarung sesajen ke laut dibatalkan. Beliau tidak ingin musibah yang terjadi di Palu terulang lagi di Pantai Ujung Pandaran," kata Khairudin.
Selanjutnya dia berkata, seperti diketahui, pada saat Tsunami di Pantai Talise Palu sedang ada ritual melarung sesajen ke laut. Karena itu mereka sepakat untuk menolak kegiatan rutin setiap akhir tahun itu.
"Saya berani menyatakan menolak karena ini Habib Akhmad Sofyan Al Idrus dari Palu langsung menyatakan, kami tidak ingin kejadian di Palu terulang di sini," pungkas Khairudin. (borneonews)



Sadranan warga Merapi. [merahputih]
Ratusan warga lereng Gunung Merapi mengikuti upacara tradisi sadranan untuk mendoakan para leluhurnya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di tempat pemakaman Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa.

Warga mengikuti upacara tradisi sadranan dengan membawa tempat makanan khas desa setempat yang disebut "Tenong" yang berbentuk bundar, untuk makan bersama-sama usai melakukan doa bersama sebagai rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Warga mengusung tenong menuju tempat upsacara. {fokusjateng]

Menurut Hadi Sutarno (65) salah satu tokoh masyarakat Desa Sruni, ada ratusan tenong yang dibawa warga dalam acara itu. Setiap kepala keluarga membawa tenong dengan mengisi berbagai jenis makanan khas desa setempat. Tradisi ini, sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang, yang terus dilestarikan hingga sekarang.

Ratusan warga yang hadir di tempat pemakaman desa setempat tersebut, katanya, dengan tujuan untuk mendoakan kepada para leluhur dan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia, agar diampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

"Makanan yang dibawa dengan tempat tenong itu, sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah dilimpahkan," kata Sutarno.

Menurutnya acara sadranan menjadi agenda tetap yang dilaksanakan setiap bulan Maulud (kalender Jawa), sehingga oleh warga biasa disebut "Muludan", yang dilaksanakan  dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Saling berbagi makanan di antara warga dalam sadranan warga Merapi. [fokusjateng]

Pada acara sadranan tersebut, kata dia, diawali bersih-bersih tempat pemakaman desa setempat, dan kemudian baru digelar tradisi sadranan. Dalam tadisi ini, semua warga yang hadir melakukan doa bersama, dan makanan yang dibawa kemudian dimakan bersama-sama serta saling tukar makanan.
Zaeni seorang tokoh Agama Desa Sruni mengatakan upacara tradisi sadranan tersebut juga untuk mengingatkan warga kepada para leluhur yang telah meninggal dunia dan mendoakannya agar mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT.

"Jika warga ingat para leluhur, juga diharapkan makin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa," katanya. (antara)
Upacara Perang Topat, simbol kerukunan keberagaman agama di Lombok, NTB. [lombokmandalika]

Upaya untuk terus menanamkan kesadaran beragamanan sekaligus melawan ekstremisme tak henti dilakukan. Mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rabu, 21 November 2018, Staf Ahli Menteri Agama Bidang Media dan Komunikasi Oman Fathurahman membuka sekaligus menyampaikan keynote speech pada Regional Workshop on Religious Education and Prevention of Violent Extremism in Diverse Societies in Southeast Asia: Lesson Learned and Best Practices
Disampaikan Oman, Menteri Agama berharap presentasi narasumber dan tanggapan peserta dalam wokrhsop ini dapat mendiskusikan dua hal yang menjadi kebutuhan bersama. Pertama, pengetahuan tentang kekayaan dan keragaman sistem dan materi pendidikan agama di masing-masing negara di kawasan Asia Tenggara. 
“Kedua, rumusan terbaik tentang pendidikan keagamaan yang dapat menghormati dan menghargai keragaman budaya masyarakat di Asia Tenggara sendiri,” ujar dia, atas nama Menteri.
 “Kedua hal ini harus menjadi bagian dari kontribusi kita untuk perdamaian dunia,” lanjutnya.
Regional Workshop yang berlangsung di Jakarta ini hasil kerjasama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan United Nations Development Programme (UNDP). Kegiatan ini diikuti 300 peserta dari negara-negara se Asia Tenggara, terdiri dari unsur pemerintah, pendidik, peneliti, dan milenial.
Menurut Menag, fakta empirik dan penelitian akademis menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan generasi milenial ini juga cukup rentan terpengaruh oleh tafsir keagamaan yang ekstrim, serta tafsir yang kurang menghargai perbedaan dan keragaman. Hal ini terjadi akibat terbukanya sistem informasi dan media sosial, sehingga para pemuda generasi milenial tak jarang menerima dan melahap begitu saja informasi yang keliru dan bahkan menyesatkan.
Menag menduga, fenomena ini bukan terjadi di Indonesia saja, melainkan juga di negara lain di Asia Tenggara, dan bahkan merupakan fenomena global. Jika tidak difikirkan bersama, kondisi ini tentu akan sangat membahayakan upaya-upaya perdamaian, terutama karena Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya, terdiri dari masyarakat yang sangat plural dan multikultural: beragam etnis, budaya, bahasa, dan agama, serta dengan demikian juga berarti berbeda pandangan dan kepentingan.
“Saya sangat percaya bahwa salah satu solusi untuk mengatasi problematika di atas adalah melalui penyediaan materi dan sistem pendidikan keagamaan yang baik, yakni pendidikan keagamaan yang dapat merekatkan jarak perbedaan, pendidikan keagamaan yang mampu menyatukan kelompok mayoritas dan minoritas, serta pendidikan keagamaan yang tidak mempertentangkan antara nilai-nilai prinsipil agama dengan kearifan lokal budaya,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Menag menyambut baik kegiatan Regional Workshop on Religious Education and Prevention of Violent Extremism in Diverse Societies in Southeast Asia: Lesson Learned and Best Practices, yang dinisiasi oleh PPIM dan UNDP. Menag percaya, tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan. Karenanya, pendidikan agama sudah seharusnya menciptakan kedamaian, harmonis, rukun, dan hidup bersama bersatu dalam keragaman (unity in diversity). (kemenag)
Sebuah pementasan dalam acara Eksotika Bromo 2018/ilustrasi. [antara]


Ratusan warga dari berbagai komunitas di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menggelar tradisi baru Grebek Bhineka Tunggal Ika dengan mementaskan aneka pertunjukan seni budaya dan ditutup dengan ritual tabur bunga di kompleks Candi Gayatri, Selasa.

Kegiatan kali ini dipusatkan di lapangan Boyolangu, dilanjutkan dengan pawai terbatas perwakilan lintaskomunitas budaya dan penganut aliran Kejawen menuju Candi Gayatri yang berjarak kurang dari 200 meter.

Candi Gayatri merupakan situs tempat penyimpanan abu jenazah ratu pertama Kerajaan Majapahit di awal abad XII, Sri Gayatri Rajapatni atau berjuluk Sri Tribuana Tungga Dewi.

"Kami berziarah dan melakukan kegiatan tabur bunga di Candi Gayatri ini merupakan bentuk penghormatan kepada almarhumah selaku leluhur sekaligus pencetus semangat Bhineka Tunggal Ika untuk mempersatukan Nusantara saat itu," kata Ketua Panitia acara Grebek Bhinneka Tunggal Ika, Kriston dikonfirmasi di sela kegiatan.

Acara yang juga dihadiri Plt Bupati Tulungagung Maryoto Bhirowo, Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi, Ketua DPRD Tulungagung Supriyono dan sejumlah pejabat itu diwarnai dengan berbagai pertunjukan budaya, mulai dari seni barongsai, tiban, tari lokal jaranan, pakaian adat temanten hingga peragaan busana adat.

Peserta yang sebagian berasal dari kalangan pondok pesantren juga menampilkan sejumlah produk pangan dan kerajinan unggulan selama gelaran Grebek Bhineka Tunggal Ika yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB tersebut.

"Kami bangga karena memiliki Candi Gayatri yang merupakan makam penggagas Bhinneka Tungal Ika," kata Plt Bupati Tulungagung Maryoto Bhirowo dalam pidato sambutannya.

Menurutnya, kegiatan ini memiliki nilai luhur yang harus diberdayakan, terutama berkaitan dengan sejarah sebagai kekayaan negeri yang patut dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus.

"Ke depan kami berharap kegiatan-kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut," ucapnya.

Hal ini dimaksudkan agar para pemuda generasi bangsa akan selalu ingat bahwa Indonesia atau Tulungagung yang ada saat ini merupakan perjuangan dari pendahulunya.

"Sejarah itu penting, karena merupakan identitas dan jati diri kita," kata Maryoto.

Ketua Panitia acara Grebeg Bhinneka Tungga Ika, Kriston mengatakan, acara ini merupakan kegiatan yang kedua setelah tahun 2017.

Menurutnya tujuan diadakannya kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa di Tulungagung yang terdiri atas kemajemukan agama dan budaya tetap bisa menjaga kerukunan dan bersatu.

"Kegiatan ini sekaligus menjawab kegelisahan masyarakat bahwa kita masih tetap rukun dan bersatu," kata Kriston.

Kriston melanjutkan, kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan satu atau dua komunitas saja.

Melainkan puluhan komunitas kebudayaan, agama, lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga non pemerintahan yang memiliki komitmen untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan di Tulungagung.

"Ada lebih dari 3 ribu peserta dari pelosok-pelosok Tulungagung yang terlibat dalam kegiatan ini," katanya.

Kriston menjelaskan, sebelum semangat Bhinneka Tunggal Ika digaungkan oleh Mahapatih Gajah Mada, semboyan tersebut juga pernah dilontarkan oleh Sri Gayatri Rajapatmi.

Untuk itu ia berharap hal ini bisa menjadi ikon Tulungagung sebagai kota pemersatu keberagaman. (antara)

Grebeg Maulud Keraton Surakarta, Selasa, 20 November 2018. [tribun]

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Keraton Kasunanan Surakarta mengadakan Hajad Dalem Grebeg Maulud (Garebek Maulud), Selasa, 20 November 2018.

Hajat tersebut ditandai dengan Kirab Gunungan, yang diiring dari kawasan Keraton menuju Masjid Agung Surakarta.

Hal ini sontak mengundang ribuan orang datang untuk melihat kirab tersebut.  
Guna menjaga keamanan acara, Grebeg Maulud tersebut mendapat pengawalan yang ketat dari pihak Kepolisian, TNI, Satpol PP, Linmas dan relawan. 

Sekitar pukul 10.25 WIB kirab dimulai, diawali ksatria kraton yang keluar, di ikuti dengan berbagai alat musik, abdi dalem dan gunungan. 

Ada 4  gunungan yang dikirab, 2 gunungan sayur mayur dan 2 gunungan intip, dan di dalam gunungan terdapat banyak makanan tradisional khas. 

Menurut Takmir Masjid Agung Kota Surakarta, Muhtarom Kirab ini diadakan sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, oleh Keraton Kasunanan Surakarta.
Rombongan dan gunungan diarak menuju ke Masjid Agung yang berada tidak jauh dari Keraton. 

Sesampainya di Masjid Agung, dilanjutkan prosesi doa bersama. 

2 dari 4 Gunungan menjadi rebutan masyarakat yang melihat kirab tersebut. 

Tidak hanya bahan pangan saja yang menjadi rebutan, bambu yang menjadi rangka Gunungan tidak luput diperebutkan oleh masyarakat. (tribun)


Alissa Wahid bersama Buya Syafi'i Maarif [instagram@alissawahid]

Oleh Alisa Wahid*

Beberapa tahun lalu, saya terkejut atas pernyataan seorang wali kota. Di dalam sebuah diskusi panel, ia berkata, ”Semua tradisi yang tidak sesuai dengan kitab suci harus kita ubah”, saat membahas tentang jejak perempuan daerahnya yang menari di ruang publik. Jika hanya dibaca dari sepotong kalimat itu, pandangan sang wali kota tampak berangkat dari niat baik dan mulia walau mungkin juga hanya jargon populis untuk memenangi pemilihan kepala daerah. Namun, pernyataan itu juga menunjukkan betapa hitam-putihnya sang wali kota memandang budaya, lebih tepatnya ritual tradisi budaya.

Tarik-menarik antara ritual budaya dan agama memang dinamika yang tak pernah usang di setiap perkembangan peradaban. Dan, akhir-akhir ini kita mendapati dinamika ini muncul menguat di beberapa penjuru Indonesia. Sikap main hakim sekelompok masyarakat terhadap acara Sedekah Laut masyarakat Bantul, DI Yogyakarta, dan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi menjadi puncak tarik-menarik ini.

Sedekah Laut yang sudah berlangsung ratusan tahun mendadak menjadi tenar karena diobrak-abrik oleh segerombolan orang saat persiapan. Alasan yang mengemuka adalah karena sedekah ini melawan ajaran agama, membawa kemusyrikan menyembah entitas lain dan menduakan Tuhan, dan karena itu harus diubah atau dimatikan. Dan, pandangan para penyerang ini merefleksikan pandangan yang saat ini menguat di Indonesia.

Karena tertarik memahami dinamika itu, saya bersemangat menghadiri sarasehan mengenai budaya dan agama akhir pekan lalu di Tembi, Bantul. Para tokoh budaya dan tokoh agama berkumpul untuk membincangkan perkembangan kontestasi antara budaya dan agama. Disinyalir, jika tidak segera direspons, maka polarisasi dan konsekuensinya tabrakan antara aras budaya dan aras agama akan semakin banyak dan memicu konflik terbuka antarkelompok di Indonesia.

Perayaan tabuik di Sumatera Barat. [via rumahdewi]
Dalam kata pengantar buku Gus Dur, _Islamku Islam Anda Islam Kita,_ Syafii Anwar menuliskan bahwa di Indonesia sedang terjadi pertarungan yang cukup kuat antara kelompok yang meyakini Islam substantif-inklusif dan kelompok pengusung Islam legal-eksklusif. Gus Dur menggunakan terminologi yang lebih sederhana: islam sebagai inspirasi dan Islam sebagai aspirasi.

Islam dengan huruf I besar beraspirasi menjadikan agama sebagai sistem pengatur kehidupan warganya secara legal formal dan mengambil batas yang tegas antara ajaran dan pengikutnya dengan bukan ajaran dan pengikutnya. Bagi kelompok ini, Islam hanya sempurna ketika ia dijadikan sistem sosial politik ekonomi secara formal di sebuah negara.

Adapun islam dengan huruf i kecil merujuk kepada agama yang mengatur hidup sebagai inspirasi dari dalam diri, dan karena itu tidak perlu diformalisasikan. Formalisasi dianggap justru akan membatasi inspirasi yang lentur. Bagi paradigma ini, islam sempurna karena nilai-nilai yang diusungnya sangat kuat dan berlaku universal, tetapi ekspresinya disesuaikan dengan konteks lokal di mana ia berada. Ini sesuai dengan kaidah _fikih al-’adat al-muhakamat_ (adat dapat ditetapkan sebagai hukum).

Kelompok pengusung Islam legal-eksklusif menyikapi ritual budaya dengan paradigma eksklusifnya. Ini karena ideologi legal formal mensyaratkan ketunggalan interpretasi sebagai dasar kepastian hukum. Tradisi budaya yang tidak datang dari masa Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya dianggap sebagai bisa (perlu) dibuang. Kelompok ini menafikan fakta bahwa setiap ritual tradisi juga membawa nilai-nilai adiluhung yang sering kali tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islami.

Sementara wataknya yang lentur membuat kelompok Islam substantif-inklusif menerima ritual budaya sebagai salah satu wujud ekspresi nilai-nilai. Masyarakat membutuhkan simbol untuk menampakkan nilai-nilainya. Yang dipastikan adalah bahwa nilai-nilai yang muncul dari ritual tersebut tidak mendorong orang meninggalkan nilai-nilai Islam seperti ketauhidan dan perlindungan terhadap 5 hak dasar manusia sebagai tujuan syariat Islam.

Kelompok pendukung Islam substantif-inklusif meyakini bahwa Islam dapat berkembang dengan damai di Indonesia justru karena ia inklusif terhadap ritual tradisi yang sudah berkembang mendahuluinya. Saat Islam menyebar di Indonesia, Wali Songo memberi muatan dan pemaknaan baru terhadap tradisi yang sudah ada, mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW yang mempertahankan beberapa ritual pra-Islam di jazirah Arab, misalnya ritual tawaf yang dipertahankan dalam ibadah haji, dengan melekatkan makna yang baru.

Kedua arus besar yang bertolak belakang tersebut membawa dinamika yang cukup intens dalam diskursus arah gerakan masyarakat Islam di Indonesia. Dalam konteks dinamika budaya dan agama, benturan ini lebih terasa. Sikap keras kelompok-kelompok yang menolak bahkan menyerang upacara tradisi membuat kita peka atas peliknya persoalan ini.

Di ujung sarasehan akhir pekan lalu, para tokoh budaya dan tokoh agama akhirnya membuat Permufakatan Yogyakarta. Intinya menegaskan bahwa budaya dan agama tidak harus dipertentangkan. Nilai-nilai adiluhung yang diwariskan leluhur bangsa seperti gotong royong dan lain-lain dapat terus diharmonisasikan dengan agama.

Sebagaimana layaknya dinamika peradaban, pada akhirnya akan ada pandangan atau paradigma yang akan memenangi pertarungan dan mewarnai peradaban tersebut. Dalam konteks dinamika pendekatan agama yang legal-eksklusif dengan substantif-inklusif, nasib tradisi budaya Nusantara akan ditentukan oleh siapa yang menang. Mampukah kita memenangi pertarungan ini?

(Kompas, 11 November 2018)